UMI Makassar – Setiap selesai shalat dhuhur. Masjid kampus 1 dan 2 serta mushallla menara UMI lantai 10 melaksanakan kajian kultum yang disampaikan pimpinan UMI secara bergantian.

Hari Kamis ini, 17 Juli 2014, bertempat di mushalla menara UMI lantai 10 dan mushalla. wakil rektor 5 Prof Dr H Ma’ruf Hafidz, SH., MH menyampaikan tentang puasa ramadhan mengajarkan kita tentang kedisiplinan dan kejujuran.

Beliau mengangkat contoh kejujuran yang diamalkan Syekh Abu Bakar Jaelani bahwa dulu dia mengembala kambing lalu dikatakan bahwa dia lebih cocok untuk menimbah ilmu. Lalu dia minta izin kepada ibunya untuk menimbah ilmu di Bagdad. Sebelum berangkat ibunya menitipkan pesan untuk berkata jujur. Dalam perjalanan ke Bagdad dia bertemu dengan segerombolan perampok. Salah seorang diantara mereka bertanya apa yang kamu miliki. Dia menjawab saya memiliki 400 dirham yang merupakan wasiat orang tua saya sebagai bekal dalam menimbah ilmu. Perampok ini tidak percaya karena kenapa ada orang yang jujur mau menyampaikan harta yang dibawanya.

“Pimpinan perampok bertanya kenapa kamu jujur menyampaikan apa yang kamu miliki. Ini wasiat orang tua saya untuk selalu berkata jujur. Akhirnya dia selamat karena perampok tidak percaya dia dipersilahkan melanjutkan perjalanannya. Hal yang sama ditekankan budaya Bugis Makassar ‘taro ada taro gau’,” ujar Ma’ruf mantan ketua LP2S UMI ini.

Hadir Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI H. Mokhtar Noer Jaya dan jamaah UMI yang berkantor di menara UMI.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!