Al-Qur’an sebagai Hudan Linnaas menjadi topik menarik pada Interaktif Ramadhan Virtual UMI (Ahad sore, 10/5) dengan Narasumber Dr. H. M. Arfah Shiddiq,MA yang juga sebagai salah satu Pengurus Yayasan Wakaf UMI. Hadir pula Host Dr. H. M. Ishaq Shamad,MA dan Dr. Hj. Nurjannah Abna,M.Pd serta Dosen ABA Burhanuddin, SS,M.Si , serta sejumlah siswa SLTA dan mahasiswa, bahkan ada peserta dari Soroako.

Dr. H. M. Arfah Shiddiq, MA, menjelaskan Al-Qur’an memberi petunjuk dalam menapaki kehidupan. Selain itu, Al-Qur’an mengemukakan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani serta kandungan Al-Qur’an tentang janji dan ancaman. Namun secara keseluruhan kandungan Al-Qur’an, yakni petunjuk/jalan orang yang lurus (mukmin) dan jalan orang sesat (ingkar).

Pesan Al-Qur’an, ingin mengembalikan keimanan orang Islam, ingin membebaskan manusia dari kebodohan dan kemelaratan, yakni dengan adanya Syariah dan Muamalah, termasuk dalam hal kode etik dalam bermasyarakat. Oleh karena itu, Al-Qur’an membawa kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Burhanuddin, SS, M.Si yang juga ASDIR 3 ABA UMI mempertanyakan bagaimana mengajarkan Al-Qur’an secara menarik kepada orang lain, khususnya kepada tetangga dan bagaimana kemuliaan dan keistimewaan dalam mengajarkan Al-Qur’an, tanyanya.

Narasumber Dr. H. M. Arfah Shiddiq, MA menjelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai petunjuk, bukan hanya sekedar dibaca dengan pahala yang besar, terutama di dalam Bulan Ramadhan, yakni membaca 1 huruf Al-Qur’an bernilai 10 pahala. Selain itu, dengan memahami fenomena alam, betapa kehadiran makhluq yang ada disekitar kita, misalnya melihat gunung, bukan hanya keindahannya, tetapi apa kandungan didalamnya, maka lahirlah pabrik semen Tonasa dan semen Bosowa, atau pabrik Nikel di Papua. Untuk itu, perlu membaca Mushaf Al-Qur’an dengan membaca juga terjemahnya, supaya bisa dipahami makna dan kandungannya. Bahkan pahala mengajarkan Al-Qur’an akan menjadi amal jaariah di akhirat kelak, jelasnya.

Host Dr. Nurjannah Abna mempertanyakan bagaimana kiat-kiat menjadikan Al-Qur’an sebagai syifaa’u/pengobat, khususnya obat galau? Dr. H. M. Arfah Shiddiq, MA menjelaskan dalam Q.S Izrail, Al-Qur’an diturunkan sebagai obat dan rahmat. Ada pandangan ulama, misalnya sebagai obat batin, tetapi ada juga yang menggunankan ayat Al-Qur’an sebagai obat fisik. Misalnya, ayat tentang perisiwa pada Nabi Ibrahim ketika dibakar, Nabi Ibrahim as. tidak terbakar. Makanya, ia sering membaca ayat Kuuniy Bardan wasalaman ala…, ketika ada yang mengalami kebakaran/terkena air panas.

Bahkan ada orang yang membaca Q.S Al-Faatihah untuk mengobati sakit perut. Selain itu, untuk obat galau dengan berzikir kepada Allah SWT, menjadikan hati tenang. Bahkan di bulan Ramadhan tahun ini dengan kasus pandemi Corona, menjadikan kita lebih banyak berzikir dan membaca Al-Qur’an. Bahkan orang yang menikmati kebahagiaan adalah orang yang banyak bersyukur, dan melihat segala sesuatu dengan berfikiran positif. Sebaliknya orang yang galau dan gagal berarti tidak banyak bersyukur, jelasnya.

Selanjutnya, Rahardi menanyakan, apakah ada perbedaan pahala membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Mushaf Al-Qur’an dengan Al-Qur’an Android? Dr. M. Arfah Shiddiq menjawab, tidak ada perbedaan pahalanya, karena yang dinilai bukan medianya, apalagi Islam merespon kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan Al-Qur’an di Android bisa digunakan dimana dan kapan saja. Bahkan di Mekah dan Madinah, banyak kaligrafi didinding masjid, jika dibaca tentu sama pahalanya dengan membacanya di Mushaf Al-qur’an, jelasnya.

Pada closing statement Narasumber menjelaskan pentingnya memahami kandungan Al-Qur’an, karena banyak orang yang mendapatkan hidayah dan masuk Islam, karena membaca dan memahami kandungan Al-Qur’an, jelasnya. Semoga kita mendapatkan rahmat dan berkah dari membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, kuncinya.

(HUMAS)