Makassar, umi.ac.id – Semua umat muslim bergembira menyambut bulan suci Ramadhan. Ibadah wajib tahunan yang telah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun lalu dianggap memberikan banyak maslahat bagi setiap yang menjalankan.

Maslahat bagi pelaku puasa menyeruak di semua sektor baik social budaya, agama, ekonomi, bahkan kesehatan.

Di sektor kesehatan, salah satu manfaat utama yakni tentang pencernaan seperti bagaimana puasa mempengaruhi sistem pencernaaan untuk menghancurkaan racun.

Wakil Dekan (WD) IV Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMIP) Dr dr Muhammad Khidri Alwi Mag MKes menjelaskan puasa memiliki hubungan erat dengan Toksemia.

Secara sederhana, kata Muhammad Khidri, perjalanan makanan dalam tubuh melewati beberapa proses. Dimulai proses ingesti atau masuknya makanan dalam mulut dimana terjadi pemotongan dan penggilingan secara mekanikal dengan bantuan gigi dan enzim saliva (air liur).

“Setelah itu pindah ke proses peristaltik, dengan bantuan kontraksi otot polos involunter makanan diteruskan ke bawah (tertelan). Sesudah itu, masuk proses digesti atau terjadi proses hidrolisis kimia (penguraian) dari molekul besar menjadi molekul kecil sampai terjadi proses absorpsi,” ungkap Muhammad Khidri, Jumat (1/5/2020).

Pada proses absorpsi, dipaparkan Muhammad Khidri, terjadi pergerakan produksi akhir dari lumen usus halus hingga masuk ke sirkulasi darah dan limfatik. Di akhir perjalanannya, proses egesti alias terjadi eleminasi zat-zat sisa yang kelak esok harinya menghasilkan kotoran (feces).

“Proses ini berjalan terus menerus sepanjang hari selama 11 bulan di luar Ramadhan. Bisa dibayangkan, perjalanan itu secara sederhana berlangsung kurang lebih 8 jam setiap kali kita makan makanan pokok. Hampir tidak ada waktu mesin pencernaan kita bisa istirahat dengan baik. Artinya, sepanjang di luar Ramadhan beban kerja pencernaan hampir di luar batas kewajaran, karena selain makan pokok yang dikerja, juga makanan-makanan kecil ikut diproses,” tutur Khidri.

Dosen FKM UMI memaparkan, secara fisiologi, ketika berpuasa seseorang sedang mengistirahatkan organ pencernaan selama jangka waktu tertentu. Ketika itu, tubuh absen dari makanan dari minuman selama 13-14 jam.

Menjelang siang dan sore itu, kata Muhammad Khidri, pencernaan beristirahat dan sebagian sel serta jaringan tubuh melakukan aktivitas lebih ringan. Pada saat itu puasa membantu mempercepat proses detoksifikasi sekaligus melancarkan proses proses regenerasi dimana terjadi pembentukan sel-sel baru.

“Proses detoksifikasi di kala puasa lebih optimal karena metabolism pengeluaran toksin di dalam tubuh berlangsung setiap saat. Ini terjadi karena organ-organ yang sehari-harinya bertugas mencerna makanan diberi kesempatan untuk libur, sehingga tubuh dapat memfokuskan energinya untuk melakukan pembersihan dengan cara menetralkan dan mengeluarkan toksin,” beber dr Khidri.

“Bandingkan, ketika kita tidak puasa, proses ini bisa lambat karena setiap saat kita makan, sehingga mesin-mesin pencernaan kurang kesempatannya untuk mengeluarkan toksin,” tutup dr Khidri.

(HUMAS)