MAKASSAR, UMI.AC.ID – Universitas Muslim Indonesia (UMI) tidak pernah abstain mengambil bagian dalam penanganan bencana di Indonesia.

Bencana Palu, Sulawesi Tengah dan Lombok, NTB misalnya. UMI dengan sigap membentuk relawan untuk mendistribusikan bantuan baik materil dan non materil.

Di tengah bencana dunia Corona Virus Disease (Covid-19), kampus swasta berakreditasi intitusi A pertama di luar pulau Jawa kembali menunjukan gerakan cepatnya.

Tanpa banyak diketahui orang, UMI langsung membentuk tim Crisis centre pasca keluarnya surat instruksi Rektor Nomor 070/F.01/UMI/III/2020 tentang tindakan penanggulangan penyebaran virus yang telah berstatus Pandemic tersebut.

Tim Crisis centre yang terkoordinasi dengan rumah sakit rujukan Ibnu Sina Yayasan Wakaf UMI ini melibatkan semua Fakultas se-UMI.

Di bawah Ketua, Prof Hatta Fattah dan Sekretaris, Zakir Sabara H.Wata, tim ini telah memassifkan sederet kegiatan penanganan Covid-19.

Sejumlah hal yang telah dilakukan diantaranya membentuk posko screening kesehatan Covid-19 di kawasan kampus UMI yang ditempatkan di pintu masuk Kampus 2 UMI, Kampus 1 Fakultas Kedokteran Gigi UMI, Menara UMI, dan Kampus Program Pascasarjana.

Lalu, membentuk relawan penyemrotan disinfektan. Relawan ini menyasar semua kantor pemerintahan, media, fasilitas kesehatan, fasilitas keagamaan dan tempat umum lainnya.

Kemudian, tim ini juga memproduki ratusan paket Alat Pelindung Diri (APD) berstandar WHO bagi paramedis mulai dari masker, gaun khusus, sepatu boot, pelindung mata (face shield), sarung tangan bedah karet steril, dan penutup kepala serta apron.

Rektor UMI, Prof Basri Modding mengatakan, ikhtiar dan komitmen UMI dalam penangulangan bencana Covid-19 tidak akan pernah berubah untuk berada di garis terdepan.

“Dengan semangat berilmu amaliah, beramal ilmiah, dan berakhlakul karimah, mewakili Civitas Akademika UMI, kami terus berdoa dan berikhtiar untuk Indonesia yang sama kita cintai,” ungkap Mantan Direktur Pasca Sarjana UMI itu.

Ketua Tim Crisis Centre UMI, Prof Hatta Fattah menyebutkan, gerakan tim tanggap bencana UMI ini akan bekerja terus hingga Covid-19 benar-benar menghilang dari Indonesia.

Sementara, Sekretaris Tim Crisis Centre UMI, Zakir Sabara H.Wata membeberkan, selain sederet gerakan di atas, pihaknya juga membagikan sembako untuk menunjang kebutuhan pangan mahasiswa UMI yang tinggal di kos.

“Gerakan ini diberi nama Grebek Mahasiswa di Kos-kosan. Ada yang tidak pulang karena kendala keterbatasan transportasi. Ada karena kampungnya menjadi daerah Pandemi, ada juga memang karena tidak ingin warga di kampungnya khawatir,” papar Zakir.

(HUMAS)