Kajian Hadis Turmuzy berlangsung di Masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI (6/12) oleh Dr.H.M.Thahir Bandu, MA yang membahas “Hukum Potong Tangan dalam Islam”.

Hadir Wakil Rektor V UMI Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA, Ketua Lembaga Pengembangan Dakwah dan Kampus Islami (LPDKI) UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA, sejumlah dosen dan ratusan mahasiswa UMI.

Ustaz Tahir Bandu menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw dilaksanakan hukum potong tangan bagi pencuri. Pernah orang yang mencuri pada zaman Nabi tersebut hanya mencuri uang yang senilai uang sekarang sebanyak 100 ribu rupiah. Oleh karena itu, bagi mereka yang mencuri uang 100 ribu saja sudah bisa dikenai hukum potong tangan. Kemudian tangan yang sudah dipotong  harus digantung di leher pencuri tersebut. Hal ini dilakukan agar yang bersangkutan tidak melakukannya lagi.

Dikatakan pula bahwa pelaksanaan hukum potong tangan saat ini sering berlangsung di Arab Saudi, termasuk pelaksanaan hukuman cambuk bagi pezina. Adapun tempat pelaksanaan hukum potong tangan harus di depan umum (di pasar atau di tempat umum lainnya). Namun demikian jika ada orang yang dicuri hartanya, kemudian ia memaafkan pencurinya dan belum ditangani hakim, maka hukum potong tangan tidak berlaku.

“Tetapi jika sudah sampai masalah tersebut di tangan hakim, maka hukum potong tangan harus dijalankan,” urainya.

Menurut Ketua LPDKI UMI Dr.M.Ishaq Shamad,MA kegiatan kajian Hadis ini merupakan kajian mingguan LPDKI UMI disamping kajian tafsir dan kajian al-Qur’an.

“Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan sivitas akademika UMI, dan umat Islam pada umumnya,” kuncinya.

(Humas UMI)