Kampus Universitas Muslim Indonesia Patut berbangga setelah tiga mahasiswanya berhasil mengalahkan Kampus ternama di Indonesia yakni Universitas Indonesia (UI) melalui debat mahasiswa “Aspirasi Untuk Negeri” yang diselenggarakan oleh BNI dan disiarkan langsung TVOne, kemarin.

Siapa sangka ketiga mahasiswa yang menjadi perhatian publik beberapa bulan terakhir ini, yakni Andri Mamonto (Fakultas Hukum angkatan 2010), Rezky Ramadani (Fakultas Hukum angkatan 2010), dan Andi Mangeppe Manggabarani (Fakultas Sastra angkatan 2012) adalah aktivis forum di yang biasanya hanya digelar di bawah pohon Kampus UMI. Berbagai macam ide dan gagasan serta perdebatan terjadi dalam diskusi yang mereka gelar di bawah pohon sekitar kampus UMI itu dan kini membawa mereka mendapai poin lebih di mata publik, magang di BNI London, Inggris, Uang Rp30 juta, tiket Umroh, serta akan menjadi dosen Yayasan Wakaf UMI.

“Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat luar biasa, yang mengharumkan nama UMI khususnya dan Sulsel secara umum. Dan sudah banyak sekali ucapan selamat melalui Handphone saya, bahkan sampai hang,” ujar Masrurah disertai gelak tawanya.

Suara tepuk tangan dan sorak sorai gembira dilantunkan oleh civitas akademika UMI dan sujud sykur dari ke tiga mahasiswa mahasiswa UMI ini sebagai pemenang juara I, bahkan air mata bahagia juga terlihat dari beberapa civitas akademika UMI setelah tiga orang mahasiswa UMI dinyatakan sebagai pemenang yang dibacakan oleh Efendi Gazali. Dewan juri menilai ketiganya mampu mempertahankan hasil penelitian inovatif sudah yang sudag mereka lakukan selama dua bulan berjudul Strategi Penanganan Konflik Antar Umat Beragama.

“Membentuk komisi dengan lex spesialis dan meleburkan lembaga atau komisi yang tidak jalan. Apalagi, saat ini memang banyak konflik agama yang terjadi di Indonesia, sehinga kami menganggap Komisi ini bisa diadakan,” jelas Andri yang merupakan ketua tim.

Bukan anak UMI jika tidak memiliki jiwa petarung dengan “menggugat” sikap pemerintah saat ini. Termasuk saat dilontarkan bahwa sudah ada 128 komisi, dan jika ditambahkan lagi akan terlalu banyak dan bisa memakan anggaran banyak. Namun hal itu dijawab dengan tegas, bahwa pemerintah jangan berlindung dibalik anggaran, demi menciptakan ketertiban antar umat beragama yang ada di Indonesia. Penjelasan yang berapi- api ini, juga mengundang tepuk tangan dari penonton yang hadir di studio.

CEO BNI Gatot M Suwondo dan disaksikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarif Hasan, Walikota Terpilih Dani Pomanto, Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) Prof Mansyur Ramly serta sejumlah civitas akademika UMI yang datang memberikan support langsung di studio TVOne di Jakarta.

“UMI (membuktikan) tak hanya bisa bakar ban saat demo,” kata pemandu debat, Alvito Deanova. Panelis debat terdiri pakar komunikasi politik Effendi Gazali dan peneliti LIPI, Siti Zuhro.

Sementara itu, Rektor UMI Prof Masrurah Mokhtar menyebutkan dirinya sangat bangga dengan hal tersebut, namun demikian meminta kepada mahasiswanya, agar tetap meningkatkan diri dengan hal- hal yang lebih positif, karena sudah pasti pihaknya akan ikut mendukung. Kedepannya, UMI juga akan bekerjasama dengan BNI yang telah disetujui DIKTI untuk menjadi pioneer debat mahasiswa khususnya di Makassar, berpijak dari kesuksesan kemarin.

Pihaknya berjanji akan memberikan penghargaan khusus kepada ketiga mahasiswanya itu dengan memberikan tiket Umroh dan Dijanjikan sebagai Dosen plus disekolahkan oleh YW UMI. Mereka terseleksi dari 16 tim dari enam kota besar di Indonesia, dengan melewatii empat tahap reginal, kemudian masuk pada tahap 10 besar, kemudian empat besar, dan yang saat ini tahap dua besar. UMI memang hanya mengirimkan satu tim saja, dan mampu masuk hingga dua besar.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!