Makassar, umi.ac.id – Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof. dr. H. Syarifuddin Wahid, PhD., SpPA (K) menjadi pembicara dalam seminar internasional bertajuk ‘The Struggle for Clerkship Educatioan 19 Dean VS Covid-19″, Kamis (7/5/2020).

Seminar yang berlangsung secara virtual ini diikuti oleh semua institusi kesehatan di bawah naungan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).

Seminar ini juga diikuti oleh 7 perguruan tinggi terbaik dunia diantaranya Melbourne University, Oxford University, Harvard Medical School, Stanford University, National University of Singapore, dan Imperial Collage Londong Inggris, serta University of Camridge.

Dekan Fakultas Kedokteran UMI, Prof. Syarifuddin mengatakan, seminar itu membahas terkait situasi pendidikan kesehatan di tengah gempuran Covid-19.

“Ada dari 7 perwakilan kampus dari luar dan 19 Dekan (termasuk Fakultas Kedokteran UMI) dari seluruh Indonesia yang berbicara, yang mendengar seluruhnya,” ungkap Prof. Syarifuddin.

Dalam kesempatan itu, kata Guru Besar Fakultas Kedokteran UMI ini, ia membahas soal bagaimana pengelolaan praktek Coas bagi calon dokter di RS ditengah situasi Covid-19.

“Bagaimana kita mengelola sehingga mahasiswa kedokteran juga belajar, tapi resiko untuk terkena covid juga difikirkan. Masing-masing punya kiat-kiat mengatur, itulah yang kami sharing dalam seminar tersebut ,” papar Prof. Syarifuddin.

“Cara kita di UMI memperkaya pengetahuan kita tentang bagaimana mengelola praktek Coas ini. Strategi yang dilaksanakan di UMI, dengan membagi 2 tim, sebagian selama covid, yang lainnya menunggu selesai Covid. Jadi, tidak diselesaikan secara keseluruhan selama covid ini,” paparnya.

Ia mengatakan, hal ini dilakukan agar tetap menopang para calon Dokter di UMI tetap belajar di lapangan sehingga tidak melulu belajar dari rumah. “Begitu cara kita supaya mahasiswa tetap belajar di RS, jangan hanya belajar di rumah,” tuturnya.

Apa yang banyak dilakukan UMI saat ini, disebutkan Prof. Syarifuddin, telah banyak menjadi rujukan beberapa perguruan tinggi di luar sana. “Alhamdulillah apa yang dikerjakan di UMI telah menjadi rujukan di perguruan tinggi lain,” tutupnya.

(HUMAS)