Makassar, umi.ac.id – Permasalahan bangsa Indonesia pasca digempur Covid-19 terbilang makin rumit. Krisis yang awalnya hanya ada di sektor kesehatan, kini masuk hingga ke dampak ekonomi, bahkan sosial. Hasilnya, ancaman resesi (krisis ekonomi global) mulai terasa.

Solusi agar situasi bisa dikontrol masih terus didiskusikan, khususnya untuk persoalan krisis sosial, dalam hal ini karakter generasi bangsa di masa akan datang.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) telah lama hadir menjawab problematika bangsa dengan menciptakan sumber daya manusia intelek dan pastinya dengan karakter mulia.

Salah satu upaya UMI adalah dengan konsisten menjalankan program pendidikan karakter berbasis pencerahan qalbu di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI Padanglampe sejak tahun 2002.

Pesantren mahasiswa Darul Mukhlisin Padanglampe dinilai Direktur Harian Fajar, Faisal Syam, sebagai solusi memecahkan persoalan bangsa lewat produksi sumber daya manusia yang berkualitas dan bermental islami.

Ini diungkapkan Faisal Syam saat menjadi narasumber dalam dialog kebangsaan memperingati proklamasi kemerdekaan RI ke75 yang diselenggarakan oleh UMI secara virtual, Senin (17/8/2020).

“UMI yang dikenal dengan jargon berilmu amaliah, beramal ilmiah, dan berakhlaqul karimah, serta berdaya saing tinggi adalah semangat yang nyata dan dibuktikan hasil alumni yang telah berkarir tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Ical, sapaan akrabnya.

“Pesantren mahasiswa UMI di Padanglampe itu menjadi jawaban dan solusi persoalan bangsa. Ini akan mampu menjawab bahkan saat revolusi industri Six Point Zero (6.0) di masa akan datang,” sambung mahasiswa program Doktor Manajemen PPs UMI ini

Pendapat Faisal Syam ini ditanggapi sekaligus diamini oleh Ketua Dewan Guru Besar UMI sekaligus Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE, M.Si saat tiba gilirannya sebagai narasumber dalam dialog tersebut.

“Saya sepakat dengan pak Faisal yang mengatakan Padanglampe menjadi soluasi permasalahan bangsa dengan pembangunan karakter. Namun, harus ditekankan bahwa Padanglampe itu berbeda dengan pendidikan karakter yang dikembangkan oleh banyak negara-negara lain yang hanya menekankan pengajaran mana yang benar atau salah, namun lebih kepada habituasi atau pembentukan kebiasaan alias pembiasaan diri,” paparnya.

Hal tersebut, menurut Prof Mansyur, dengan tahapan pembentukan karakter profesional seperti Keterampilan inovasi (inovative skill berbasis IT), Leadeship Skill Communication Skill, dan Collaboratif Skill.

“Karakter profesional ini pencerahan qalbu di Padang Lampe menjadi solusi dengan karakter building,” tutupnya.

(HUMAS)