Makassar, umi.ac.id – Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI, melalui dosen ABA UMI melaksanakan kegiatan PKM Penggunaan Media Story Telling dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Pada Siswa SMA Negeri 14 Gowa pada bulan Agustus sampai Oktober 2020. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 1 SMA Negeri 14 Gowa dan guru, yang terlaksana atas dukungan dan biaya dari Universitas Muslim Indonesia melalui LPkM UMI.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh Tim yang diketuai oleh Chuzaimah, SS., M.Pd.I.,M.Pd. dan Lusy Angraeni, SS., M.Hum sebagai anggota serta melibatkan 2 orang mahasiswa ABA UMI sebagai pendamping dalam pelaksanaan kegiatan. Kegiatan ini merupakan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yang bertujuan membantu mitra melalui pelatihan/pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan media story telling sehingga siswa dan guru mamiliki pengalaman dan menambah pengetahuan dalam belajar bahasa Inggris.

Chuzaimah yang merupakan Ketua Tim PkM tersebut mengungkapkan bahwa Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan sebanyak 5 sesi secara online/daring dikarenakan situasi dan kondisi pandemi covid 19. Namun pada sesi terakhir dilaksanakan secara ofline di sekolah sekaligus pemberian cendramata bagi siswa yang berprestasi. Penggunaan story telling sebagai media dan materi dalam pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa kelas 1 SMA Negeri 14 ini merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar siswa melalui kegiatan mendengar, menyimak, dan speaking (berbicara), sehingga melalui kegiatan PKM ini, siswa akan dilatih bagaimana cara menyampaikan cerita di depan kelas.

Target luaran yang diharapkan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah terjadinya peningkatan minat belajar siswa melalui keterampilan menyimak, membaca dan keterampilan berbahasa sehingga terjadi penambahan kosa kata yang dapat memudahkan siswa dalam berbicara (speaking). Selain itu bagi guru yang ikut dalam kegiatan ini diharapkan dapat mencari dan menemukan variasi materi dan metode yang digunakan dalam pembelajaran.  Siswa juga diharapkan nantinya akan menjadi pioneer di lingkungan sekolah tentang cara belajar bahasa Inggris yang simpel dengan menggunakan story telling, urainya.

Dalam kesempatan yang sama Lusy Angraeni menambahkan bahwa Berbagai metode yang digunakan dalam pembelajaran ini, yaitu audiolingual, audio visual, metode menyimak, membaca dan metode Total Psycal Respon yang melibatkan sebanyak mungkin peran siswa (Learning student Centre).

Hasil dari kegiatan pembelajaran ini sangat efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Siswa terlatih dalam mendengar, menyimak, dan menyimpulkan sebuah cerita. Dari mendengarkan cerita, siswa menemukan kosakata baru. Lalu, dari menyimak dan menyimpulkan, siswa dapat berkomunikasi. Adapun hasil yang dicapai bagi tenaga pengajar atau guru adalah bertambahnya pengetahuan mereka dalam penggunaan metode dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan story telling sebagai media dan materi, serta mengusai teknik dan strategi dalam penerapannya, tutupnya.

(HUMAS)