Makassar, umi.ac.id – Stunting atau gizi kronik adalah suatu bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan, dan kurang gizi kronik. Keadaan yang sudah terjadi sejak lama, bukan seperti kurang gizi akut. Stunting dapat juga terjadi sebelum kelahiran dan disebabkan oleh asupan gizi yang sangat kurang saat masa kehamilan, pola asuh makan yang sangat kurang, rendahnya kualitas makanan sejalan dengan frekuensi infeksi sehingga dapat menghambat pertumbuhan (Unicef Indonesia, 2012). Persentase balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya ≥20% (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2016).

Kabupaten Takalar masuk dalam 1 dari 10 Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di Sulawesi Selatan. Persentase angka kejadian stunting di Kab. Takalar mencapai 44 % di tahun 2018 dan turun menjadi 25 % di tahun 2019 (Dinkes Kab. Takalar 2019).

Kurangnya kesadaran tentang pentingnya gizi ibu akan berdampak pada kurangnya upaya yang dilakukan untuk pencegahan stunting. Kondisi ini tentunya akan berlanjut sampai dengan anak lahir.

Hal tersebut mendorong Nurul Ulfah bersama dengan tim melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat internal yang didanai oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPkM) UMI melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan pengolahan daun kelor menjadi jus kelor dengan mengusung tema “ Pengolahan Daun Kelor oleh Kelas Ibu Fatayat NU Untuk Pencegahan Stunting di Kab. Takalar” bekerja sama dengan kelas ibu Fatayat NU Kab. Takalar sebagai salah satu organisasi sosial masyarakat keagamaan yang memiliki anggota perempuan berusia produktif dan memiliki dampingan serta komunitas di Kab. Takalar yang diberi nama Kelas Ibu Fatayat NU.

Kelas ibu Fatayat NU Kab. Takalar dibentuk dalam rangka mengedukasi serta memastikan bahwa ibu hamil dan menyusui di Kab Takalar dapat melahirkan anak yang sehat terbebas dari stunting.

Tujuan jangka panjang yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah terwujudnya ibu hamil dan ibu menyusui yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengolah bahan pangan alternative berupa daun kelor yang tumbuh subur di daerah Kab. Takalar untuk pencegahan stunting.

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Balangtanaya, Kec. Polongbangkeng Utara Kab. Takalar yang diikuti oleh 20 orang ibu hamil dan menyusui yang tergabung dalam kelas ibu Fatayat NU.

(HUMAS)