Makassar, umi.ac.id – LPkM UMI melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Binaan di Desa Tasiwalie melakukan kegiatan pengembangan sentra rumput laut mulai dari pengembangan teknologi budidaya, pengolahan sampai pemasaran (Pelaksanaan mulai 8 Sept. 2020 sampai sekarang).

Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi dari program tri dharma perguruan tinggi melaluli dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yang diketuai oleh Dr.Ir. Abdul Rauf, M.Si dan anggota Dr. Muhammad Yunus, S.Kel., M.Si dan Ir. Kamil Yusuf, M.Si.

Ketua pelaksana PPDM tersebut mengungkapkan bahwa sector perikanan merupakan sector andalan Indonesia khususnya rumput laut, selain untuk kebutuhan lokal juga untuk eksport. Jika dimanfaatkan secara optimal maka dapat memberikan kontribusi ekonomi yang menjanjikan.

Pada umumnya metode budidaya yang dilakukan petani rumput laut selama ini menggunakan metode long line. Metode ini memiliki beberapa kelemahan yakni membutuhkan ruang yang luas, rumput lautnya mudah patah dan sering dimakan hama pemakan rumput laut seperti ikan baronang. Salah satu solusinya adalah dengan imput teknologi Rakit Jaring Apung (RJA). Alat ini memiliki beberapa keuntungan yaitu membutuhkan ruang sempit, rumput laut yang patah tidak terbuang, dan bebas hama ikan baronang serta hasilnya bersih dari kotoran air. Disamping itu pengoperasiannya mudah karena menggunakan system tebar dasar.

Dalam kesempatan yang sama, Muh Yunus mengatakan alat ini sangat efektif diterapkan saat ini karena dengan bertambahnya jumlah penduduk kebutuhan ruang semakin sempit hususnya lahan budidaya rumput laut.

Selanjutnya kamil yusuf menilai selama kegiatan berlangsung, masyarakat petani rumput laut dilokasi tersebut sangat serius mengikuti dan sangat senang dengan kegiatan ini dan berharap mendapatkan ilmu baru dalam hal teknologi budidaya rumput laut maupun pengolahan dan pemasaran.

Ahmad ketua Kolompok tani Cottoni Suppa yang sekaligus sebagai mitra dalam PPDM ini mengungkapkan rasa terima kasihnya dalam kegiatan ini karena dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi selama ini dan berharap tetap mendapatkan pendampingan dari pihak pelaksana walaupun kegiatan ini sudah berakhir.

Selanjutnya Ketua pelaksana PPDM menjelaskan bahwa penerapan imput teknologi rakit jarring apung ini memberikan hasil yang cukup signifikan, dimana dengan 50 kg bibit yang ditebar pada RJA dengan ukuran 3×3 meter menghasilkan  227 kg saat panen (basa). Hasil ini lebih rendah dibandingkan hasil sebelumnya di daerah lain yaitu 369 kg/RJA. Salah satu penyebabnya adalah daerah ini cukup terlindung (teluk) sehingga perairannya relative tenang dan kurang berarus sementara alat ini cukup efektif pada perairan yang berarus.

(HUMAS)