Dosen Pengabdi UMI bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Parangloe Gelar Pelatihan dan sosialisasi perlakuan jenazah bertempat di Aula Kantor Kecamatan Parangloe kelurahan Lanna Kecamatan Parangloe (9/3).

Hal ini disampaikan oleh DR.Amir Mahmud selaku Koordinator Dosen Pengabdi Se-Kecamatan Parangloe yang juga kordes Bontokassi.

Hadir Koordinator Dosen Pengabdi UMI DR.Amir Mahmud, SE., M.Si, DR.Yusri Arsyad,Lc., MA sebagai Pemateri, Dosen Pengabdi Se-Kecamatan Parangloe, Kades, Iman Desa dan dusun, Ketua Majelis Taklim Se-Parangloe Mardiyah, S.Ag,MA. beserta anggota, yang juga pegawai UMI dan masyarakat setempat.

DR.Yusri Arsyad yang juga dosen Fakultas Agama Islam ini mengungkapkan bahwa dalam penanganan jenazah, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyikapi dan menghadapi orang yang sakratul maut, bagaimana cara memandikannya, mengafaninya dan menguburkannya. Ketika si calon jenazah sudah sakratul maut, usahakan didekatnya tidak ada suara bising dan ribut seperti suara tangisan dan musik, sebaiknya yang diperdengarkan adalah surah Yaasin dan membisikkan ketelinga si calon jenazah kalimat La Ilaha illallah. Usahakan pula disekitarnya tidak ada yang bernajis seperti orang yang baru saja junub atau sementara halangan karena malaikat tidak akan suka dan tidak akan datang. Dalam hal memandikan, yang memandikan hendaklah orang terdekat si jenazah; misalnya bila istri maka suami yang memandikan; bila suami maka istri yang memandikan; bila anak maka orang tua atau saudara yang memandikan dan sebaiknya yang memandikan jenazah, 2 orang saja sudah cukup, 1 yang memandikan 1 yang menjadi asisten menyiramkan air. Dalam hal mengafani, hendaknya kain kafannya dibalutkan dari kiri ke kanan, hal ini dilakukan agar ketika dimasukkan ke liang lahat, kain kafan si jenazah tidak mudah terbuka. Talinya pun harus diikatkan disebelah kiri untuk memudahkan pelepasan tali ketika jenazah dimasukkan keliang lahat. Untuk kain kafan laki-laki sebaiknya 3 lembar dan perempuan 5 lembar karena auratnya lebih banyak. Dalam hal penguburan, yang memasukkan jenazah ke liang lahat adalah keluarga terdekatnya dan sebaiknya orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua dalam hal ini adalah orang-orang tua yang sudah mati rasa bila menyentuh bagian tubuh orang ataupun jenazah.

“Ketika memandikan sebaiknya menggunakan kaos tangan agar tidak menyentuh langsung tubuh jenazah dan ingat,jangan melihat aurat jenazah karena jenazah harus diperlakukan secara terhormat seperti ketika hidupnya,” papar Ustadz yang pernah tinggal dan belajar lama di Tunizia ini.

Disampaikan pula bahwa program ini merupakan salah satu program unggulan yang dilaksanakan Dosen Pengabdi UMI di Kecamatan Parangloe.

Selain itu, di Bontokassi kami juga mengadakan pengajian dan pencerahan Qalbu, pengenalan bebatuan terkait dengan ilmu pertambangan,pengajaran dan pemberian tips dalam menghadapi UN Bahasa Inggris, tinjauan kesehatan dan pembuatan kue tradisional.

“Dosen pengabdi yang ditempatkan di Parangloe ini, berasal dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, sehingga semuanya wajib mengeksplore idenya,” ungkap Pak Amir yang juga Dosen Fak. Ekonomi dan pascasarjana UMI ini.

Camat Parangloe, Muh. Saleh Saud juga menyatakan bahwa pemerintah kecamatan Parangloe menyambut baik program yang dilaksanakan Dosen Pengabdi UMI.

“Kami mengharapkan adanya masukan untuk Kecamatan Parangloe dari Bapak/ Ibu Dosen pengabdi UMI, sehingga ketika selesai pengabdian, ada yang bisa dipetik manfaatnya oleh warga dan masyarakat,” ungkapnya.

Dosen Pengabdi UMI yang ditempatkan di Kecamatan Parangloe disebar ke beberapa desa, yakni ke kelurahan Lanna, Desa Bontokassi, Borisallo dan Lonjo Boko.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!