Kabupaten Takalar dikenal sebagai pusatnya jagung. Malah komoditi ini menjadi penopang stok jagung nasional. Meskipun begitu, tidak semua warga Takalar merasakan dampak secara ekonomi. Salah satu daerah yang belum merasakan efek peningkatan pendapatan keberadaan jagung adalah Desa Tonasa Kecamatan Sanrobone.

Menurut Sekertaris Desa Tonasa, Arief Dg Ngajang saat ditemui Sabtu (24/11) menjelaskan, hamparan kebun jagung di hampir seluruh wilayah belum bisa mengangkat taraf hidup warga. Hasil panen melimpah langsung dijual dengan harga relatif murah ke pengepul.

“Terkadang harga jagung dipermainkan tengkulak dipasaran, tapi karena nilai tawar petani rendah akhirnya warga mau juga menjual meski dengan harga rendah,” jelas Dg Ngajang, yang juga seorang petani jagung.

Kondisi ini membuat 6 orang dosen muda UMI pengabdi desa seperti; Musfira Ahmad dan Nurbaeti – FKM, Andi Fadli Heriansyah Nur Ikhwan Saputra dan Suriyanto Bakri – FTI, serta Muhammad Idris – Fak. Sastra dan Ilmu Komunikasi untuk membantu mencarikan solusi warga.

Solusi yang dimaksud dengan melatih mengembangkan berbagai jenis olahan jagung seperti dodol jagung dan beras jagung.

Menurut Musfira Ahmad, potensi olahan jagung sangat banyak jenisnya dan punya pasar tersendiri. Apalagi makanan olahan jagung sangat dibutuhkan bagi mereka yang menderita diabetes.

“Makanya olahan jagung dikatakan sebagai salah satu makanan sehat dan bergisi oleh kementrian kesehatan utamanya bagi penderita diabetes,” ungkap Dosen Keperawatan ini.

(Humas UMI)