Istilah halal bi halal merupakan produk dalam negeri, sebagai bentuk kesyukuran karena kita mencapai kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 bertepatan 9 Ramadhan dan kita juga dapat mengendalikan hawa nafsu selama sebulan berpuasa.

Istilah ini lahir dari kaum muda, seniman dari jogja, Halal bi Halal, yang bermakna halal saling menghalalkan, tidak ada dendam di antara kita, hal ini disampaikan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar,MA dalam Halal bi Halal dengan tema meraih kemenangan dan merajut silaturrahmi Civitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, bertepatan dengan hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Ahad 24 Mei 2020.

Kegiatan ini berlangsung menggunakan aplikasi online yang dihadiri oleh Pembina Yayasan Wakaf UMI, Rektor dan Wakil Rektor UMI, Dekan, Wakil Dekan, para Dosen, dan mahasiswa preklinik serta klinik.

Prof. Nasaruddin mengatakan, silaturahmi itu penting. Sinergi melahirkan energi, akan sulit kita mendapat enegri jika tidak ada sinergi, al barakah tul fil jamaah, silaturrahmi tidak hanya sebatas kepada manusia, tapi semua kepada makhluk ciptaan Allah.

Jangan pernah memusuhi siapapun, karena barang siapa yang takut kepada Allah, maka semua makhluk semua akan takut kepadanya, barang siapa mencintai Allah maka semua makhluknya juga akan mencintainya, jika kita mencapai ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah, maka kita akan menjumpai keajaibannya. Dicontohkan, bagaimana Nabi Nuh, Nabi Musa as, senantiasa dalam lindungan Allah dan makhluk Allah mencintainya dan sayang kepadanya.

Dalam ukhuwah, dikenal ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniyah dan ukhuwah Islamiyah, ditambahkan satu ukhuwah, makhlukiyah, persaudaraan sesame makhluk. Kadang hal ini disepelekan, boleh jadi dapat merusak kehidupan kita.

Menyinggung tentang Virus corona, yang kurang lebih tiga bulan melulantahkan kehidupan manusia, tidak hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia. work form home dengan segala konsekuensinya.

Prof. Nasaruddin, berharap UMI akan melahirkan suatu rekayasa teknologi yang mampu menjawab kecenderungan orang mulai bosan tinggal di rumah. Kita harus memikirkan hijrah, menciptakan alternative work from home. UMI menciptakan terobosan menjadi leading, program ‘leaving the bubble’ hidup dalam balon.

Bukan kita bersembunyi dalam rumah, sebagian kita lumpuh karena tidak bisa melaksanakan aktivitas di luar. Di luar sumber pekerjaan, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan dalam rumah, Karena itu UMI dapat merancang teknologi made new normal, leaving the new normal, menciptakan suatu rekayasa, hidup di dalam balon, ujar Imam Besar Masjid Istiqlal ini.

Karantina diri sendiri seolah-olah hidup dalam kapsul. Dalam al Quran hal tersebut disebutkan. Bagaimana Iblis mendekati manusia dai semua sisi, 4 penjuru mata angin, namun Iblis tidak mampu menggoda anak manusia yang hidup dalam suatu keadaan yang tidak tembus oleh Iblis baik dari depan, belakang, kanan dan kiri. Leaving the bubble, al Quran telah mengisyaratkan sains dan teknologi, kita tidak bisa sembunyi di rumah kita hidup dalam kapsul, dalam artian kita memproteksi diri dari virus anti virus, yang dapat membahayakan kita.

Lanjut dikatakan Rasulullah SAW salah satu hadistnya menyatakan bahwa Larilah kalian pada saat kalian menemukan penyakit, yuzam, (penyakir kusta, levra, spesies sangat ganas). Tapi hadist lainnya menyebutkan Rasulullah SAW ditemukan pernah makan dalam satu baki orang yang berpenyakit yuzam. Maknanya adalah Rasulullah telah memiliki anti virus, mampu memproteksi diri sehingga tidak takut berada dengan orang yang memiliki penyakit yuzam.

Beliau berharap, di UMI akan lahir teroboosan sains yang bisa mengatasi kondisi saat ini dengan tidak meninggalkan tardisional yang luhur. Melahirkan konsep leaving the bubble, tidak perlu di rumah tapi ada system proteksi vaksin pada dirinya.

Dalam tausiahnya, KH. Nasaruddin Umar juga menjelaskan tentang sejarah tokoh-tokoh ilmuan Islam yang menguasai dunia rentang tahun 700-1000-an masehi. Ini untuk memacu UMI sebagai institusi, khususnya mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk melahirkan ilmuan-ilmuan besar nantinya, Insya Allah. Selanjutnya diisi dengan penjelasan tentang silaturahim masih bernuansa Idul Fitri.

Prof. Syarifuddin, Dekan FK UMI sangat senang kegiatan ini terlaksana dan juga berharap FK UMI kedepannya mampu menciptakan kurikulum-kurikulum yang mendukung terwujudnya dokter islami sebagai ilmuan masa depan di dunia seperti isi tausiah KH. Nasaruddin Umar.

Sementara itu Rektor UMI, Prof. Dr. H. Basri Modding,SE.,MSi dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan FK UMI dengan berbagai terobosan inovasi dan kreativitas atas arahan Dekan FK UMI beserta jajarannya. Perguruan Tinggi ingin maju harus melakukan berbagai inovasi teknologi.

Dalam komentarnya, Prof. Dr. H. Mansur Ramly sebagai Ketua Pembina YW-UMI, Dr. H. M. Mochtar Noerjaya sebagai Ketua YW-UMI, dan Prof. Dr. H. Basri Modding, Rektor UMI, sangat mendukung kegiatan ini dan berharap Fakultas Kedokteran UMI mampu mengembangkan pendidikan lebih maju kedepan dan semuanya mendukung penuh demi pengembangan FK UMI dengan pembukaan program specialis dalam lingkup Fakultas Kedokteran UMI.

(HUMAS)