Makassar, UMI.AC.ID – Corona Virus Disease (Covid-19) telah ditetapkan oleh World Health Organitation (WHO) sebagai Pandemic setelah tingkat penyebaranyaa yang massif di berbagai penjuru bumi.

Semua orang dipaksa disarankan untuk melakukan upaya pencegahan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, kmenjaga kesehatan, dan menghindari tempat yang berpotensi menularkan Covid-19.

Dalam beberapa waktu terakhir, kerap sekali muncul perdebatan di media sosial terkait larangan beribadah di rumah ibadah untuk sementara waktu demi menghindari potensi penularan Virus Pandemic tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus YW-UMI, H.M. Mokhtar Noer Jaya menjelaskan, salaah satu hal yang harus diketahui saat ini bahwa sebagai umat Washatan harus bersikap washatiah.

“Kita adalah Umat Washatan, umat yang berada di tengah,” ungka Mokhtar Noer Jaya.

Washatan dalam artian kata Mokhtar Noer Jaya, bersikap taakut kepada Allah namun tidak menutup diri dari sikap ikhtiar dengan berupaya menghindari musibah.

“Kita Takut kepada Allah SWT dan kita menghindarkan diri dari penularan Covid-19. Kita semua berdoa semoga ujian ini dapat berlalu dan kita mensucikan hati saling memaafkan agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa ramadhan dengan baik, diberi kekuatan, kesehatan dan diridhoi oleh Allah SWT,” papar Mokhtar Noer Jaya.

Sementara itu, Ketua Pembina YW-UMI, Prof.Dr. H. Mansyur Ramly menyampaikan, musibah yang terjadi saat ini menjadi ujian bagi semua orang. Semoga lulus dan mendapat nilai kelulusan yang baik sehingga dinyatakan naik kelas pada taraf kehidupan yang lebih baik.

“Mengurangi kegiatan di luar rumah yang tidak penting, termasuk menerapkan bekerja dari rumah dan melaksanakan pembelajaran daring merupakan langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mencegah penyebaran wabah virus corona yang masih meluas di Indonesia saat ini. Tinggal di rumah, tetap harus dibarengi dengan produktifitas kerja dan optimal,” harap Prof Mansyur.

Prof Mansyur menjelaskan, salah satu hikmah di balik Pandemi Covid-19 ini, adalah intensitas mahasiswa kuliah yang sebelumnya terbilang malas mengikuti kuliah.

“beberapa mahasiswa saya dari Papua, Kalimatan, dan sejumlah daerah di Sulsel menyatakan bahwa saat ini, mereka lebih aktif mengikuti kuliah dibandingkan sebelum adanya Pandemi Covid-19. Belajar dengan Sistem Daring, perkuliahan dapat diikuti secara penuh oleh mahasiswa,” imbuh Prof Mansyur.

“Hal ini menjadi isyarat bagi kita, pentingnya ke depan untuk pengembangan sistem akademik di UMI secara penuh telah berbasis IT,” sambung Prof Mansyur.

UMI tidak hanya mengedepankan kualitas, tetapi juga telah melakukan perluasan akses berkualitas dengan kuliah di UMI, sehingga, meski mahasiswa berada di pelosok tanah air Indonesia, mereka dapat mengakses perkuliahan berkualitas dari UMI.

(HUMAS)