Interaktif Ramadhan Virtual UMI membahas “Tanda-Tanda dan Cara Meraih Lailatul Qadr” (Sabtu,9/5). Hadir Dr. KH. M. Zein Irwanto, M.A yang juga Wakil Rektor IV UMI, Host Dr. M. Ishaq Shamad,MA dan Dr. Hj. Nurjannah Abna,M.Pd, sejumlah peserta dari siswa SLTA dan mahasiswa.

Selain itu, juga ditayangkan Video Taushiyah Prof. Dr. H. Baharuddin Semmaila, SE,M.Si/Direktur Program Pascasarjana UMI, yang berjudul Lailatul Qadr dan Cara Meraihnya.

K. H. Zein Irwanto menjelaskan di dalam bulan Ramadhan sangat dinantikan lailatul qadr, yakni banyak sekali Malaikat turun sampai langit terasa sempit. Malaikat mendoakan orang-orang yang berpuasa dan yang melakukan ibadah lainnya.

Selain itu, qadr artinya malam kemuliaan, karena malam diturunkannya Al-Qur’an dan malam itu lebih baik pahala ibadah yang dikerjakan daripada seribu bulan. Al-Qadr disebut juga perubahan taqdir, kerena Malaikat datang untuk melakukan perubahan taqdir atas ijin Allah SWT.

Untuk itu, diminta agar banyak berdoa untuk mendapatkan takdir yang lebih baik. Doa yang diajarkan Nabi SAW, antara lain “Nas’aluka ridhaaka wal-jannah wanauuzubika min syakhtika wannaar… .Kita minta keridaan/kegembiraan Allah dan merubah takdir kita menjadi ahli syurga.

Apa yang dilakukan supaya bisa mencapai lailatul qadr? yakni melakukan I’tikaf di masjid. Namun saat ini pada masa pandemi Covid-19, maka sebagian ulama, misalnya Imam Nawawi, menganjurkan I’tikaf di rumah, dengan catatan ruangan I’tikaf itu seperti Mushala, yang dijaga kebersihannya dan tempat shalat berjamaah dan shalat tahajud.

Dalam i’tikaf tersebut, agar bermuhasabah, memikirkan berapa dosa dan bandingkan dengan amal baik yang telah dilakukan. Selain itu banyak istigfar dan melaksanakan shalat sunat taubat, jelasnya.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana UMI Prof. Dr. H. Baharuddin Semmaila dalam video taushiyahnya menjelaskan malam lailatul qadr sebagai malam kemulian. Cara meraihnya, masing-masing orang memperoleh sesuai dengan ibadah yang dilakukannya, seperti Nabi Muhammad SAW melakukan I’tikaf di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, jelasnya.

Salah seorang peserta, Syukur menanyakan apakah malam lailatul qadr bisa diraih di tengah pandemi Covid-19? KH. Zain Irwanto menjelaskan di musim Covid-19, kita tidak bisa ibadah ke masjid, namun kita bisa bersujud di rumah (dianggap sebagai tempat sujud=masjid).

Mengenai pahalanya, Allah Maha Tahu, karena kondisi pandemi ini, maka insyaa Allah pahalanya sama, ikhlas karena Allah, dengan mengikuti sunah Rasul, yakni I’tikaf di rumah dengan catatan ruangan itu di rumah yang memang sering digunakan untuk ibadah, jelasnya.

Azzahra menanyakan malam lailatul qadr sebagai malam turunnya Al-Qur’an, bagaimana tanda-tandanya? KH. Zein Irwanto menjelaskan tanda-tanda lailatul qadr, yakni malam menjadi seperti bulan purnama, karena Malaikat yang tercipta dari cahaya turun ke bumi, makanya malam itu penuh cahaya, dan siangnya sinar matahari sangat teduh. Tanda alamiah lainnya, yakni udara sejuk sekali, anginnya menjadi penawar kesehatan.

Secara rohaniah, orang yang memperoleh lailatul qadr, yakni memiliki sikap damai kepada diri sendiri, sesama manusia, bahkan damai kepada alam dan kepada Allah SWT. Jika anda cerewet, cemburuan, maka jika mendapatkan lailatul qadr tidak cemburuan lagi. Selain itu, malam itu terasa dekat dengan Allah SWT, merasa sangat teduh, khusyu beribadah, bahkan menangis dihadapan Allah SWT. Ia berusaha memperbaiki diri, jika tidak berbuat baik kepada orang tua dan orang lain, maka ia merasa berdosa. Itu semua sebagai tanda-tanda orang yang mendapatkan lailatul qadr, jelasnya.

Host Dr. Nurjannah Abna menanyakan tips bagaimana caranya memperoleh malam lailatul qadr itu? KH. M. Zein Irwanto menjelaskan lailatul qadr itu, adalah tamu, makanya memuliakan tamu sudah mempersiapkan diri, sejak malam pertama, ia sudah sangat khusyu’ ibadahnya. Bahkan dimana ia menghadapkan wajahnya, maka ada saja wajah Allah SWT. Jika anda memiliki wajah cantik, itu alamat kecantikan/keindahan Allah Swt. Alamatnya sudah ada, yakni menjaga wudhu, menjaga pola makannya, sehingga ketika mendapati malam lailatul qadr, maka ia akan mengalami hal yang sangat bersih, bersih dan bersih sebagai malam quds, kuncinya.

(HUMAS)