Kehadiran UMI di Car Free Day Boulevard, sangat tepat dan strategis, Hal ini menjawab bagaimana perguruan tinggi, kehadirannya memberikan infomasi yang baik dan benar kepada sasaran yang tepat. Karena itu, UMI hadir memberikan informasi yang baik dan benar sangat strategis, karena masyarakat mendapatkan informasi yang tepat, ujar Ketua LLddikti Wil. Sulawesi saat mengunjungi Stand UMI di Car Free Day (CFD) Boulevard (8/3).

Nampak hadir pula, Rektor UMI, Prof.Dr. H. Basri Modding, SE.,MSi., Rektor UMI periode 2010-2018, Prof.Dr. Hj. Masrurah Mokhtar,MA, Sekretaris LLdikti XIV Papua dan Papua Barat, gung Nugroho Marey, S.Pd., M.Pd (baju Merah), Sekretaris Wil VIII Bali dan NTB, Ir. Anak Agung Ngurah Rai Indra Wardana , MT (baju abu-abu) dan Sekretaris LLdikti Wil. XIII Aceh, Dr. Muhammad Ilham Maulana, S.T., M.T ( Abu-Abu Garis), Sekretaris LLdikti Wil. IX Sulawesi dan Gorontalo, A. Lukman, MSI.

Saat ini era keterbukaan, hal ini yang langsung dijawab oleh UMI dengan kehadirannya di CFD, memberikan infomrasi yang dimiliki kepada masyarakat dengan tepat.

Satu hal menarik yang dihadirkan UMI di Stand CFD yang telah berjalan tujuh minggu ini, karena tidak terbatas hanya memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat, tapi juga melaksanakan pengabdian, dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat di CFD oleh tim medis Fakultas Kedokteran UMI ini.

Melalui pelayanan kesehatan di CFD, Saya juga berharap UMI memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang wabah virus Corono yang lagi booming saat ini.

Menurut Prof, Jas, panggilan akrabnya menyatakan, ada kecendrungan masyarakat salah informasi tentang virus corono, karena itu, dia berharap di stand UMII, masyarakat bisa mendapatkan informasi tentang profil dan pencegahan virus tersebut.

Prof Jasruddin mengambil satu contoh dalam cerita, di suatu daerah terjangkit suatu wabah corona, lalu ketika corona menuju ke tempat tersebut, lalu kafilah bertanya mau kemana Corona? Dijawab, Saya mau mengambil nyawa orang. Namun ketika dia kembali, ditanya, berapa nyawa yang kamu ambil, hanya seribu, tapi kenapa informasinya lima ribu, karena empat ribu meninggal sendiri tanpa saya sentuh karena mendapatkan informasi yang salah, ujarnya.

Saya pun khawatir karena salah informasi, maka kita membatasi diri segala akitivitas, mengurung diri, dan sebagainya, padahal tidak ada kaitannya dengan penularan penyakit tersebut, ujar Prof Jasruddin.

(HUMAS)