Pesantren Ramadhan Virtual UMI sore ini (Kamis,7/5) membahas “Konsep Tawadhu dalam Islam” dengan Narasumber Dr. Ir. H. Asbar, M.Si yang juga Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI. Hadir Host Dr. H. M. Ishaq Shamad,MA, dan sejumlah peserta dari siswa SLTA dan mahasiswa.

Dalam Video Taushiyahnya, Dr. Ir. Asbar menjelaskan konsep Tawadhu, adalah merendahkan diri dihadapan Allah SWT, para Nabi dan Rasul, para ulama, guru dan orang tua. Dikatakan manusia terdiri dari 4 unsur, yakni tanah, api, udara dan air, keempat unsur tersebut mempengaruhi sifat dan karakter manusia. Adapun sifat tawadhu merupakan salah satu unsur dari air, jelasnya.

Dikemukakan dalam perspektif Puasa Ramadhan, tujuan utama puasa di bulan Ramadhan, adalah meraih derajat taqwa. Salah satu ciri orang bertaqwa, yakni tawadhu atau rendah hati, tidak sombong, dan suka berbagi. Sedangkan dalam perspektif ibadah, sikap tawadhu dengan sujud menghambakan diri dihadapan Allah SWT, karena semua manusia sama disisi Allah SWT, kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, jelasnya.

Lebih lanjut dikemukakan orang yang rajin sujud dalam shalat, maka darah yang mengalir ke otaknya lancar dan menyebabkan ia berfikiran jernih, tidak sombong dan tidak angkuh, sehingga ia akan selalu melihat segala masalah dengan pikiran jernih dan positif, jelasnya.

Host M. Ishaq Shamad menambahkan pentingnya memiliki sifat tawadhu, namun tawadhu bukanlah merasa rendah diri, tetapi rendah hati. Jika memiliki perasaan rendah diri, pasti susah berkembang. Misalnya, jika ditanya kuliah dimana? Kalau jawabannya di UMI ji. Tentu ini perasaan rendah diri. Padahal seharusnya jawabannya, adalah di Perguruan Tinggi Swasta Terfavorit di Kawasan Timur Indonesia dan Terakreditasi Institusi A. Ini jawaban percaya diri, bukan berarti sombong dan membanggakan diri, sebab apa yang disampaikan memang benar adanya. Dikatakan rendah hati, adalah sifat yang berusaha bijaksana dalam menghadapi segala situasi, tambahnya.

Ketika dipertanyakan bagaimana agar kita dapat memiliki sifat tawadhu ini? Dibutuhkan keikhlasan dan kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, serta kesabaran dan keikhlasan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Puasa yang dilakukan di bulan Ramadhan dapat menjadi sarana untuk melatih diri memiliki sifat ikhlas dan sabar, sehingga pada akhirnya dapat meraih derajat dan karakter tawadhu, jelas M. Ishaq Shamad.

(HUMAS)