Makasar, umi.ac.id – Moral adalah instrumen penting dalam proses menjadi manusia yang berkualitas. Moral saat ini disebut-sebut telah terserabut dari berbagai sudut tindak tanduk perilaku dan karakter manusia.

Dalam berbagai riset mutakhir, moralitas yang baik menjadi instrument yang paling dibutuhkan dunia kerja atau professional di sektor pemerintahan, industry swasta maupun BUMN.

Dengan moralitas yang baik, maka dipastikan seorang akan terus mnghindarkan diri dari perbuatan menyimpang seperti korupsi, narkoba, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya.

Lalu bagaimana perguruan tinggi menjawab pendidikan Moral untuk menyiapkan luaran yang berkualitas?. Universitas Muslim Indonesia (UMI) telah lama menerapkan sistem pendidikan moral yang maju.

Kampus yang tengah mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional dan konversi akreditasi berbasis ISK ini telah menerapkan sitem pendidikan Moral berbasis Karakter dengan Metode Pesantren.

Penddidikan Moral berbasis Pesantren di UMI telah eksis selama 21 satu tahun, terhitung sejak tahun 2000. Seluruh civitas akademika di UMI diwajibkan mengikuti proses pesantren yang diberi nama pencerahan Qalbu.

Rektor UMI Prof. Dr. H Basri Modding, S.E, M.Si mengungkapkan, pendidikan moral di pesantren ini dibagi menjadi dua bagian yang dianggap paling penting.

“Di Pesantren itu ada dua poin utamannya yakni pengembangan Karakter moral bagaimana memiiki etika, integritas dan perbuatan yang baik sebagai insan UMI. Kemudian Karakter kerja dimana mendorong civitas akademika UMI bekerja ulet, tangguh, dan tidak mudah menyerah,” ungkap Prof Basri Modding.

Pendidikan Moral melalui pesantren di UMI ini, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI ini telah banyak menginspirasi perguruan tinggi lain, bahkan lembaga non-perguruan tinggi.

“Ada banyak perguruan tinggi yang belajar sistem pendidikan Moral yang dikembangkan oleh UMI melalui pencerahan qalbu di Pesantren Unggulan Darul Mukhlisin Mahasiswa UMI, Padanglampe, ,” kata alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI ini.

Selain pencerahan Qalbu, pendidikan pesantren juga dilakukan sebagai pengganti OSPEK di masa lalu yang dianggap sarat akan kekerasan. Mahasiswa baru saat memasuki kampus UMI disambut dengan pesantren kilat selama 3 hari.

(HUMAS)