Kultum Kisah Inspiratif

UMI Makassar – Kultum tentang Kisah Inspiratif berlangsung di Masjid Kampus 2 UMI (21/3) oleh Ketua LPDKI UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad, MA. Hadir pula sejumlah pimpinan UMI, dosen, karyawan dan mahasiswa UMI.

Dr.H.M.Ishaq Shamad menyampaikan tema Kultum tentang Rasa Bosan. Dikemukakan sebuah cerita ringan tentang kebosanan.Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya. Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu : “Contohnya?”Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

Hal tersebut di atas sejalan dengan kandungan surah Q.S. al Hujarat ayat 12 :

Yaayuhallaziyna aamanuu jtanibuu katsiyran minazhzhanniy, Inna ba’daz zhsnniy Itsmun…..

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sesungguhnya prasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dari ayat di atas ada 3 (tiga) perbuatan yang harus dihindari oleh orang-orang yang beriman. Ketiga hal tersebut adalah :
a.      Berprasangka buruk
b.      Mencari-cari kesalahan orang lain
c.       Menggunjing orang lain

Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yaitu Bermula dari prasangka buruk (dari dalam hati), lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian diteruskan dengan tindakan (Action) seperti hujatan, cercaan dan makian.Buruk sangka adalah dosa, karena ia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan sangkaan buruk terhadap keluarga, kerabat, dan orang lain tidak pada tempatnya, sebab sebagian dari prasangka itu adalah murni perbuatan dosa dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang berbaik.

(Humas UMI)

Previous Mahasiswa UNM Ikuti Pencerahan Qalbu di Pesantren UMI
Next Mahasiswa KKN UMI Dilatih Proses Pembelajaran

You might also like

Komunikasi Terakhir WR 2 & Ketua Pembina YW-UMI

UMI Makassar – Ketua Dewan Pembina Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr Mansyur Ramly MS, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Wakil Rektor II UMI Dr Iskandar BP MSc, IPM, (57),

Lagi, UMI Latih Masyarakat Makassar Selenggarakan Jenazah

UMI Makassar – Rektor UMI Prof.Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, M.A membuka Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah Bagi Tokoh Masyarakat Kecamatan Makassar (14/2), di Kampus 2 UMI. Hadir Wakil Rektor IV UMI Drs.KH.M.Zein Irwanto, S,

Roadshow Pendidikan Karakter UMI Hadir di Pinrang

UMI Makassar – Lembaga Pengembangan Dakwah dan Kampus Islami (LPDKI) UMI Road Show Pendidikan Karakter di sejumlah SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah, baik Negeri maupun swasta di Pinrang dan Parepare