UMI Makassar – Kultum tentang Kisah Inspiratif berlangsung di Masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI (27/4) oleh Dr.H.M.Ishaq Shamad, M.A. Hadir Wakil Rektor IV UMI KH.M.Zein Irwanto, S.M.A, sejumlah pimpinan fakultas, dosen, karyawan dan mahasiswa UMI.

Dikatakan kisah inspiratif kali ini berjudul Garis Tangan. Dikisahkan suatu waktu, ada seorang konglomerat dan pengusaha kaya. Hebatnya, kekayaan itu menurut banyak pihak diperoleh benar-benar dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang.

Suatu ketika, karena penasaran, ada seorang pemuda ingin belajar menimba pengalaman dari sang pengusaha. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha sukses.

“Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin menimba pengalaman dari Bapak shingga bisa sukses seperti Bapak,” ujar pemuda itu.

Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan tangannya. Si pemuda pun terheran-heran. Namun, lantas si pengusahapun menjelaskan maksudnya. “Biar aku lihat garis tanganmu. Dan, simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yg kamu minta,” jawab pengusaha tersebut. Setelah menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, “Lihatlah telapak tanganmu ini. Di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, di sini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh.

Sekarang, menggenggamlah. Di mana semua garis tadi?”
“Di dalam telapak tangan yang saya genggam.” Jawab si pemuda yg penasaran.
“Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Dan, begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan berbagai cara utk menentukan nasibku sendiri,” terang si pengusaha. “Tetapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yg tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena di sanalah letak kekuatan spiritual dari Sang Maha Pencipta yang kita dimana kita tidak dapat mendapatkan itu tanpa Tuhan.

“Itulah sebabnya Allah berfirman, yang artinya: Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha merubah nasibnya sendiri. Namun demikian, jika sudah berusaha kemudian dipasrahkan kepada Allah SWT,” jelasnya.

(Humas UMI)