UMI Makassar – Kajian Kultum tentang pengendalian diri berlangsung di masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI oleh M.Rachmat Koesman, S.Si,Apt, MSi.
Dekan Fakultas Farmasi UMI ini menyatakan pengendalian diri terhadap anggota tubuh sangat penting. Masing-masing memiliki fungsi dan tidak ada yang saling mengklaim satu dengan lainnya, misalnya tangan tidak pernah menggantikan fungsi mulut, kecuali bagi yang difabel. Itulah sebabnya para Ulama menyatakan man arafa nafasahu faqad arafa rabbahu (siapa yang mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya).
Dikatakan pula semua yang ada di dalam kehidupan terdapat dalam tubuh manusia, contohnya polisi, yang menjadi polisi dalam tubuh adalah sistem imun. Oleh karena itu, di dunia kerja, kalau ada yang mau mengambil alih tugas dan fungsi orang lain, maka orang itu sakit.
“Makanya, kerjakanlah sesuai dengan fungsi masing-masing, sebagaimana kerja fungsi-fungsi indra dalam tubuh. Demikian pula dalam kehidupan keseharian, mahasiswa fungsinya kuliah, dosen fungsinya mengajar,” urainya.
Pada saat manusia makan nasi, tubuh akan menyerap makanan yang terdiri dari banyak unsur-insur kimiawi yang diurai dengan sangat apik dalam tubuh, tanpa mengharapkan return dari kerja tubuh. Inilah yang disebut ikhlas.
Ikhlas dalam pendekatan matematika dapat dilihat jika 10 bagi 2 dua dapat 5, tapi 10 dibagi nol hasilnya tak terhingga. Jika memberikan sesuatu jangan berharap returnnya, sebab jika memberikan 10 dan jika tidak berharap returnnya, maka hasilnya tak terhingga. Demikian pula Dosen dan karyawan yang bekerja ikhlash, akan dibukakan pintu-pintu kebaikan dan pintu rejeki. Ibaratnya pintu masjid lebar karena semakin banyak orang yang memanfaatkannya.
(Humas UMI)