UMI Makassar – Di awal bulan Februari, UMI kembali menambah jajaran sumber daya yang berkualifikasi Doktor. Setelah bulan Januari 2015, dosen UMI meraih gelar doktor ada delapan orang.

Kasma F amin meraih gelar doktor (2/2) dalam bidang pendidikan bahasa Indonesia di program pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Lontarak dan Surek Ugi Kajian Kearifan Lokal Bugis sebagai basis pendidikan karakter bangsa didepan penguji yang dipimpin Direktur PPs UNM  Prof Dr Jasruddin MSi yang berlangsung di gedung DA PPs UNM.

Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMI Prof Dr Hj Masrurah Mokhtar MA, Dekan Fak Sastra UMI  Dra Hj Muli Umiaty Noer, M.Hum, keluarga besar Fakultas Sastra UMI, keluarga dan sejawat.

Kasma yang merupakan dosen Fakultas Sastra jurusan Bahasa Indonesia ini mengatakan bahwa penelitian ini bertujuan mengkaji lebih mendalam tentang struktur dan fungsi Lontarak dan Surek Ugi sebagai wacana dalam kearifan lokal bangsa, menemukan konsep ideologi, nilai,norma dan kebiasaan dalam kearifan lokal bangsa  serta menemukan karakter dalam kearifan lokal bangsa sebagai basis pendidikan karakter bangsa yang dapat diimplementasikan dalam kurikulum nasional.

Kasma yang juga pengurus muslimat NU Sulsel ini mengatakan bahwa penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori analisis wacana kritis model van Dijk serta teori hermeneutika. Untuk mengkaji struktur Papaseng menggunakan teori analisis wacana kritis van Dijk serta untuk mengungkap fungsi, ideologi, nilai, norma dan kebiasaan masyarakat bugis yang ada dalam Papaseng menggunakan model analisis hermeneutika.

Lanjut dikatakan, hasil penelitian ini mengungkap tentang ideologi dan karakter suku Bugis. Temuan tentang ideologi Bugis yang disebut Sirik Napesse yang dipresentasikan dalam : sorik pertama, adanagauk (kata dan perbuatan) sirik kedua sipakatau (kemanusiaan), sirik ketiga asseddingeng (persatuan), sirik keempat teppe (kepercayaan). Keempat sirik tersebut dimanifesitasikan dalam 16 butir karakter suku Bugis.

“Ada perbedaan yang signifikan dengan katakter yang disusun dalam renstra pendidikan karakter bangsa sehingga penelitian ini merekomendasikan kepada pemerintah dan pengambil kebijakan yaitu beberapa butir karakter Bugis yang wajib mengisi kekosongan dalam butir pendidikan karakter bangsa kajian ini dapat menjadi acuan untuk penelitian karakter suku lain sebagai bahan dalan merumuskan model pendidikan karakter bangsa,” ujar Kasma yang juga alumni Fakultas Sastra jurusan Bahasa Indonesia UMI ini.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!