Kajian Tajwid Al-Qur’an berlangsung di Masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI oleh Dr.H.Agus Salim,MA (12/6). Hadir Ketua LPDKI UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA, para Wakil Dekan IV UMI, sejumlah dosen dan mahasiswa UMI.

Agus Salim menyatakan bahwa pengucapan huruf aanzartahum pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah mengucapkannya dengan tipis-tipis, karena bertemunya dua hamzah (istfham). Dikatakan pula ada istilah tashiil, yakni bertemunya dua huruf yang sama (alif) pada ayat tersebut di atas. Selanjutnya ada juga istilah tashiil maa idghal, artinya bacaan aanzhar tahum dibaca dengan tiga harakat.

“Bahkan Ibn Katsir dan beberapa imam besar lainnya dalam sejarah Islam membaca ayat tersebut sampai 6 harakat,” urainya.

Mengapa terjadi perbedaan pengucapan ayat Al-Qur’an? Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tulisan ayat Al-Qur’an. Pada tahun pertama hijriah ayat Al-Qur’an belum memiliki tanda baca. Namun setelah tahun kedua Hijriah, barulah ayat Al-Qur’an dibuatkan baris (syaql).

“Penetapan hukum dalam ilmu fiqhi sangat dipengaruhi oleh bacaan-bacaan di dalam Al-Qur’an, misalnya ketika seseorang membaca kalbu (anjing) dan qalbu (hati),” urainya.

(Humas UMI)