Salah satu kebijakan pokok bangsa Indonesia dibidang pendidikan adalah melakukan reaktualisasi pendidikan agar melahirkan generasi muda yang berkarakter, hal ini disampaikan Ketua Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi RI yang juga Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof.Dr. H. Mansyur Ramly, dihadapan peserta pesantren kilat angkatan III, mahasiswa baru UMI  tahun akademik 2013/2014, di aula Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe, Pangkep (25/8).

Lanjut dikatakan, kekuatan manusia digambarkan seperti gunung es, yang kelihatan hanya sedikit, tapi didasar laut sangat besar. Manusia memiliki kekuatan yang paling dahsyat  berada dibawah dasar laut, puncaknya adalah Ipteks dan skill, kekuatan fisik manusia berada didasar laut adalah integritas dan kejujuran.

“Rasulullah menjamin umatnya yang jujur, karena orang yang jujur, maka ada kekuatan yang merupakan puncak kebajikan yang dapat membawa untuk meraih kebahagiaan syurga dunia dan akhirat,” ujar mantan Kepala Balitbang Kementrian Pendidikan Nasional RI ini.

Membangun katakter bangsa diperlukan karakter kejujuran, keikhlasan dan kesungguhan, sebagai nilai-nilai dasar yang merupakan bagian dari integritas.

“Sebab bangsa yang jujur dan ikhlas mengabdi, bersungguh-sungguh untuk membangun bangsanya dengan integritas Ilahiah, maka akan mendapatkan hasilnya kelak,” tegas Mansyur Ramly

UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah salah satu bagian dari bangsa ini yang selalu memberikan gagasan pembaharuan, tidak  membuat UMI riya dan sombong dalam  membentuk anak bangsa yang berkarakter,  memiliki prinsip hidup yang baik dan bermoral, berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Karena itu, diharapkan kepada mahasiswa UMI tidak menjadi sarjana yang arogan, tetapi diharapkan  memiliki intelektual humanity, seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk, semakin tinggi pendidikan, semakin merunduk, tawadhu, mau menyumbangkan kelebihan yang dimiliki untuk kepentingan bangsa ini.

Sementara itu, Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Prof. Dr. Hj.A. Niartingish mengawali ceramahnya dihadapan peserta pesantren kilat angkatan III, mahasiswa baru UMI yang berjudul Membangun Soft Skill Mahasiswa mengatakan bahwa  kompetensi lulusan perguruan tinggi yang diharapkan adalah mereka yang mampu berkomunikasi tertulis dan lisan melalui tindakan yang tepat dan efektif, bekerja dalam tim, berfikir analitis, memiliki Ilmu Pengetahuan dan menguasai teknologi, bekerja mandiri, berfikir logis dan adaptif.

“Untuk membangun soft skill dan hard skill mahasiswa, maka langkah perguruan tinggi yang perlu dilakukan yaitu, membuat soft skills statement dari lulusan yang diintegrasikan dengan kompetensi lulusan, yang akan menjadi brand image lulusan,” ujar A.Niartiningsih yang juga Dekan Fak.Perikanan Unhas ini.

Hal ini dapat mengidentifikasi kemampuan soft skills yang akan dikembangkan oleh mahasiswa baru, membuat perencanaan untuk masing-masing tingkat, sehingga tergambarkan proses pembangunan karakter yang dikehendaki sampai mahasiswa lulus, membuat program terobosan yang khas dengan mempertimbangkan sumberdaya yang ada dalam pengembangan soft skills.

Lanjut dikatakan, pertanyaannya kemudian, apa yang perlu dilakukan oleh mahasiswa untuk mengintegrasikan hard skill dan soft skill pada dirinya, maka yang perlu dilakukan adalah membuat goal yang jelas dalam membentuk karakter (ingin dicitrakan sebagai apa?), aktif berinteraksi dan berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan yang berfokus pada pembentukan karakter,memiliki role model orang sukses, pelajari autobiografinya dan tiru kebiasaan menuju hidup sukses, rajin membaca buku yang bermuatan pengembangan kepribadian dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (cara berkomunikasi, saling menghargai, disiplin, komitmen, bertanggungjawab dan senantiasa jujur).

Sementara itu, Kepala BNNN Prov. Sulsel, Drs. Richard Nainggolan,MM.,MBA yang juga hadir memberikan pencerahan kepada mahasiswa baru (26/8) di pondok pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe, Pangkep menguraikan tentang bahaya narkoba bagi generasi muda. Sejarah narkoba sejak dulu telah ada dalam kehidupan manusia. Persoalannya bagaimana memusnahkan barang yang memberikan dampak yang berbahaya bagi kehidupan manusia termasuk generasi muda. Sebab barang yang terlarang ini tidak memandang tingkatan, baik usia, muda atau tua, kaya atau miskin, laki atau perempuan, semua bisa menjadi sasaran narkoba, termasuk mahasiswa sebagai generasi pelanjut estafet bangsa.

Diantara dampak yang ditimbulkan narkoba, diantaranya  ketergantungan, segar dan bersemangat tetapi hanya sesaat (stimulan), depresan, memengaruhi aktivitas fungsional tubuhnya, sehingga ia merasa tenang, tertidur bahkan tidak sadar, pergaulan hanya dikalangan pemakai narkoba, karena pada akhirnya akan menghancurkan kehidupannya. Selain itu, dampak dari barang terlarang ini, seperti; halusinogen, mengubah persepsi dan pikiran seseorang dan penyakit HIV dan AIDS yang hingga saat ini belum ada obat yang menyembuhkan. Selain itu, gejala dini penyalahgunaan narkoba, perubahan perilaku sosial, menghindari kontak mata langsung dengan lawan bicara, kurang disiplin, suka bengong sendiri, suka membolos, mengabaikan kegiatan ibadah, menarik diri dari aktivtas.

Mantan Kasat reserse polda ini  mengingatkan kepada mahasiswa untuk senantiasa waspada dan mengatakan  tidak (say no) untuk narkoba. Sebab apabila lengah, bisa terjerumus karena terjebak dari barang haram ini. Alur peredaran, diawali dengan memberikan secara gratis, lama kelamaan, keasyikan dan ketergantungan karena dampak yang ditimbulkan,sehingga karena ketergantungan, ada yang menjual diri, ada yang menjadi pengedar karena kenikmatan sesaat, karena diiming-iming dapat barang dan dapat uang, sehingga terjerumus karena terjebak di awalnya.

Karena itu, Richard menegaskan kepada mahasiswa UMI, untuk jangan sekali-kali mencoba, karena bagi mereka yang sudah mencoba, hidupnya akan tergantung kepada barang yang menyesatkan ini. Richard juga mengajak mahasiswa UMI sebagai penyuluh dan menyuarakan SAY NO to Narkoba khususnya dikalangan generasi muda.

(Humas UMI)