Zulkifli mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI Makassar berkesempatan mengikuti pertemuan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, di Jakarta 1 Desember 2019 lalu.

Hal ini disampaikan Zulkifli sesaat tiba di Kota Makassar, Selasa (3/12) bahwa Hasil audiensi dengan menteri Kelautan dan Perikanan yakni dalam pertemuan yang dihadiri 33 Lembaga Kemahasiswaan Perikanan(LKP) Himapikani pada tanggal 29 November 2019 bertempat di auditorium tuna gedung mina bahari iv.

menghasilkan beberapa catatan penting dalam hubungan Himapikani dengan Kementrian kelautan dan perikanan.

Dalam kesempatan ini Himapikani berpendapat bahwa antara Himapikani dan KKP adalah mitra dimana jika kebijakan KKP menguntungkan kepentingan rakyat perikanan pasti Himapikani akan senantiasa membantu mensukseskan kebijakan tersebut akan tetapi jika kebijakan tersebut merugikan rakyat perikanan Himapikani akan menjadi yang terdepan untuk meluruskan hal tersebut.

Pada kesempatan ini menteri kelautan dan perikanan bapak edhy prabowo mengutarakan terkait kebijakan yang akan dibawa ke arah mana kkp kedepannya yang dimana yang akan menjadi fokus utama kkp adalah menjadikan sektor budidaya menjadi salah satu sumber penyokong ekonomi Indonesia tapi dalam hal ini tidak melupakan sektor lain baik itu penangkapan ataupun pengolahan.

Ia berharap Himapikani selaku stakeholder penting bisa mengawal dalam pelaksanaan program kkp dan menjadi mitra kkp pada khususnya. Dan dilibatkan dalam setiap perumusan kebijakan yang fundamental.

Namun, untuk mengoptimalkan pengelolaan potensi ini, Menteri Edhy berpendapat Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Oleh karena itu, keberadaan jurusan perikanan dan kelautan di setiap kampus akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan sektor ini.

“Ke-depan kebijakan kami akan fokus dalam sentra budidaya, semua budidaya baik itu ikan untuk ketahanan pangan, ikan untuk hias, juga ikan untuk industri,” lanjutnya.

Ia ingin mahasiswa merubah paradigma yang terfokus ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintahan. Ia mengatakan, menekuni usaha budidaya perikanan, pengolahan ikan, dan sebagainya jauh lebih menguntungkan. Apalagi dengan keilmuan yang dimiliki, mahasiswa dapat menerapkan teknologi yang dapat meningkatkan hasil usaha. Di bidang budidaya misalnya, dengan sistem intensifikasi hasil yang diperoleh bisa berkali lipat lebih tinggi dibandingkan budidaya tradisional.

“Himapikani dapat memberikan pendampingan bagi masyarakat. Misalnya ikut menggiatkan usaha budidaya di masyarakat. Untuk menghidupkan lahan, KKP memiliki bantuan ekskavator dan dapat mengadakan mesin pembuat pakan mandiri. Mahasiswa dapat berkontribusi dengan membantu akses jaringan irigasi, membangun jaringan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), bekerja sama dengan pemerintah dengan ilmu yang dimiliki,” cetusnya.

(HUMAS)