Makassar, umi.ac.id – Rapid test yang dewasa ini diterapkan dibeberapa wilayah merupakan salah satu upaya screening dan syarat bagi orang yang hendak bepergian terutama menggunakan moda transportasi udara atau memasuki suatu wilayah tertentu, namun hal ini tak jarang menuai protes dari masyarakat.

Di tengah kebebasan berpendapat di sosial media tidak jarang dijumpai masyarakat yang membuat postingan tentang penolakan mereka terhadap rapid test, hal ini berakibat pada makin meluasnya penolakan masyarakat terhadap rapid test hingga ke lingkungan pemukiman.

Polemik tentang penolakan rapid test yang berkembang dimasyarakat dewasa ini menjadi latar belakang mahasiwa Program Studi Kesehatan Masyarakat FKM UMI melaksanakan webinar pada Senin (13/7/2020), dengan tema “Isu Dibalik Penolakan Rapid Test, Pendapat Ahli atau Ahli berpendapat”.

Dengan menghadirkan pemateri nasional yang ahli dibidangnya yaitu bapak Dr. Pandu Riono,MPH.,P.,hD Epidemolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, yang kerab menjadi narasumber di berbagai media elektronik.

Beliau menyampaikan materi dengan judul “Stop Rapid Test Antibody di Indonesia”, menurut beliau bahwa rapid test hanya cocok untuk pemeriksaan sero-survai demi menilai tingkat penularan virus pada populasi, untuk menilai seberapa banyak masyarakat yang sudah terinfeksi covid-19, jadi kegunaannya lain, bukan untuk pemeriksaan dalam masa pandemi yang sangat gawat ini, karena kita harus mendeteksi orang dengan virus maka kita harus menggunakan alat pendeteksi yang lebih akurat.

Pemateri muda tamatan Hardvard University drg. Monica Nirmala, MPH Senior Public Health Adviser di Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) menyampaikan materi tentang rapid test, penggunaan, akurasi dan alternatifnya, dan bapak Saprillah, MSI selaku antropolog/Kepala Balai Penelitian Pengembangan Agama Makassar yang menyampaikan tentang fenomena sosiologis yang mengarah pada kericuhan akibat kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang masih bersikukuh melakukan kegiatan sosial keagamaan ditengah pandemi.

Pandemi mengubah relasi sosial kita, dengan menganggap bahwa siapapun diluar diri kita berbahaya bagi kita, hal ini menjadi fundamental sosiologis yang buruk akibat pandemi.

Webinar yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai wilayah Indonesia melalui aplikasi zoom dan live youtube ini digagas oleh mahasiswa peserta Pengalaman Belajar Mahasiswa Prodi Kesmas FKM UMI, keberhasilan dari webinar ini tidak terlepas dari kerjasama tim dan bimbingan tim dosen diantaranya Dr. Fatmah Afrianty Gobel, SKM., M.Epid, Dr. Haeruddin, SKM., M.Kes., Nurul Ulfa, SKM., M.Kes., Septi, S.Gz., M.Kes., Yuliati, ST., M.Kes, Mansur Sididi, SKM., M.Kes dan Ulfa Sulaeman, SKM., M.Kes dan berkat dukungan penuh dari pimpinan program studi Kesmas FKM UMI dan pimpinan fakultas.

Di sela-sela kegiatan webinar juga ditampilkan video tentang Universitas Muslim Indonesia secara umum dan video pengenalan tentang Yayasan ASRI yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Panitia menilai bahwa ini merupakan langkah awal dan pembelajaran berharga bagi mereka untuk melakukan webinar berskala internasional dimasa yang akan datang.

(HUMAS)