Makassar, umi.ac.id – Indonesia terus digembosi kondisi mencekam yang berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya sikap intoleransi, sebagaimana data dirilis oleh The Wahid Institute pada awal tahun 2020 dari 46% menjadi 56%.

Menyikapi kondisi ini mahasiswa Universitas Muslim Indonesia melalui PIMNAS 33 mempersembahkan gagasan dengan berdalil pada pandangan Roscoe Pound bahwa law is tool social enginering yang dikorelasikan dengan pandangan Eugen Elrich bahwa hukum yang baik adalah hukum yang diangkat dari nilai-nilai hidup di masyarakat, serta dalil Koetjoningrat bahwa sistem nilai budaya mempengaruhi sikap seseorang.

Merujuk pada dalil para ahli, sikap mahasiswa UMI direfleksikan melalui telaah korelasi Nilai Toleransi dalam Nilai Budaya Siapakatau, Sipakainge dan Sipakalebii sebagai upaya preventif pencegahan Sikap Intoleransi di Sulawesi Selatan.

Hasil telaah yang telah terkonkritisasi menjadi gagasan kemudian dituangkan berupa hasil penelitian yang didanai oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan setelah melalui proses seleksi dari ratusan ribu proposal dan setelah proses seleksi persentase laporan kemajuan.

Hingga akhirnya, tibalah besok pada rangkaian puncak persentse dihadapan para reviewer sebagai bentuk pengujian dan pertanggung jawaban gagasan melalui Pekan Ilmiah Nasional 33 sebagai event bergengsi Kementrian Pendidikan Kebudayaan.

Dari Universitas Muslim Indonesia untuk Indonesia.

(HUMAS)