UMI Makassar – Pihak kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), sangat menyayangkan tindakan pihak Kepolisian yang telah memukul mundur para pengunjuk rasa ke dalam kampus, Kamis (27/11). Seharusnya Polisi memukul mundur pendemo ke arah Taman Pahlawan Pannakukang.

Rektor UMI, Prof Masrurah saat konfrensi pers di lantai 9 gedung menara UMI, mengatakan pihaknya menyesalkan tindakan Polisi itu yang melepaskan tembakan gas air mata dan mencederai demonstran. Seharusnya Polisi mencari solusi lain, karena hal tersebut merupakan tanggung jawabnya.

Polisi berkewajiban menertibkan pendemo. Jika pendemo menutup jalan atau meresahkan pengguna jalan lain, seharusnya Polisi membubarkannya dengan menggunakan cara lain yang tidak disertai kekerasan. Polisi mengalami kesalahan prosedur dalam menangani bentrokan di UMI.

“Itu kami sesalkan Polisi, kenapa dia pukul mundur massa ke dalam kampus. Seharusnya dia arahkan ke Taman Pahlawan. Supaya kelihatan mana warga, mana mahasiswa. Polisi harus buat aturan main, jika ada yang tutup jalan atau melakukan penahanan mobil, polisi harus berusaha mencari solusi. Kita minta polisi tangani kasus ini secara serius,” ujar Masrurah.

Rektor UMI Beserta Jajarannya Adakan Konfrensi Pers Pasca Bentrok

Mulai hari ini, pihak kampus memutuskan untuk meliburkan mahasiswanya sampai hari Senin mendatang. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat senat. Bahkan senat sudah bertemu dengan orang tua mahasiswa yang terlibat pada bentrokan tersebut.

UMI juga telah melakukan pemecatan terhadap empat mahasiswa dan empat mahasiswa lagi diberikan sanksi berupa skors tanpa batas. Hanya saja Masrurah tidak mau menjelaskan secara rinci identitas maupun fakultas ke delapan mahasiswa tersebut.

“Kita minta kesemua teman-teman untuk membantu kami mendeteksi mahasiswa yang terlibat. Mahasiswa yang dipecat itu, sudah berkali-kali terlibat anarkis. Itu berdasarkan laporan polisi juga. Makanya kami putuskan di kembalikan kepada orang tuanya,” kata Rektor dua priode itu.

Masrurah mengaku mendukung mahasiswa yang berusaha menyampaikan aspirasinya tentang penolakan kenaikan harga BBM. Namun, dia juga menyesalkan dengan adanya tindakan mahasiswa yang sering menutup jalan.

UMI juga menyayangkan dengan adanya warga yang ikut dengan mahasiswa berunjuk rasa. Bentrokan itu merupakan skenario oknum-oknum tertentu yang tidak senang dengan UMI. Hal tersebut, sudah terjadi di beberapa kampus di Makassar.

“Kita lihat ini skenario, beberapa di Makassar dulunya mengalami hal yang sama, jadi oknum yang tidak senang dengan kami, menjadikan kampus kami sebagai targetnya. Ada skenario yang tidak setuju dengan kami.

Mengenai dengan adanya oknum Kepolisian yang melakukan pelemparan batu maupun melepaskan tembakan gas air mata di dalam mesjid, UMI akan menempuh jalur hukum dan akan melaporkan hal tersebut kepada yang berwajib.

Mengenai dengan adanya pengrusakan pos satpam maupun pembakaran empat unit sepeda motor yang dilakukan oleh masyarakat, Masrurah juga menyayangkan hal tersebut. Meskipun demikian, UMI tidak akan melaporkan hal tersebut dan tidak akan melawan masyarakat.

“Kita akan berikan sanksi kepada mahasiswa yang terlibat pada bentrokan itu. Seharusnya setiap mahasiswa yang turun aksi harus menggunakan almamater supaya diketahui, bahwa dia itu mahasiswa,” kata Masrurah.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!