Evaluasi Kinerja Dosen (EKD) bertujuan untuk mengevaluasi  kinerja dosen  yang telah  melaksanakan tri darma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Selain itu, EKD ini bertujuan mengetahui sejauhmana dampak dari tunjangan profesi pendidik dan tunjangan kehormatan yang diberikan dengan kinerja dosen dan mengukur komitmen akan tupoksi sebagai pendidik yang melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Hal ini disampaikan WR I UMI, Prof.Dr. H. Syahnur Said,MS bersama WR II UMI, Dr. Ir.Iskandar BP,MSC didepan dosen UMI dalam rangka penyerahan akun peserta dan monitoring data evaluasi kinerja dosen penerima tunjangan profesi pendidik dan tunjangan kehormatan di Auditorium Al Jibra Kampus II UMI (4/10). Hadir dalam acara tersebut, Ketua Lembaga Penjamin Mutu UMI, Ir. Fitrah,MT.

Lanjut dikatakan bahwa EKD dan BKD adalah dua hal yang berbeda. EKD merupakan pengisian form yang telah disiapkan oleh Dikti untuk mengukur sejauhmana evaluasi kinerja individu dosen khususnya yang telah menerima tunjangan profesi pendidik dan kehormatan, tidak memiliki keterkaitan dengan jurusan/prodi.

“EKD adalah evaluasi setiap tahun.  Sedangkan BKD adalah evaluasi setiap semester yang merupakan evaluasi  beban kinerja dosen,” ujar Iskandar BP, mantan dekan Fakultas Teknik UMI ini.

Realitas dilapangan, ditemukan bahwa  dari jumlah 100 dosen yang telah mendapatkan sertifikasi dosen, baru satu diantaranya  yang telah merampungkan EKD (Evaluasi Kinerja Dosen).

Apabila EKD tidak dimasukkan sesuai dengan batas waktu yang telah diberikan yaitu tanggal 12 Oktober maka  dosen tersebut akan mendapatkan sanksi yang berkaitan  dengan tunjangan profesi pendidik atau tunjangan kehormatan yang telah diterima.

Setelah itu, WR I UMI,Prof.Dr.Syahnur Said,MS juga memberikan penjelasan mengenai tata cara pengisian EKD dengan sistematis dan penuh ketelitian.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!