Pemimpin Harus Memiliki Pengetahuan, Percaya Diri dan Jaringan : Agenda Women Leadership Award Part.2

UMI Makassar – Hari ketiga dan keempat diMelbourne semakin menyenangkan, hubungan kekeluargaan antar peserta Indonesian Women’s Leadership Course  semakin kental demikian juga dengan Kylie dan Yusria yang setia mendampingi serta fasilitator Dr. Rebecce dan Ammarie dengan suasana diskusi yang menyenangkan. Selain itu, adaptasi cuaca dingin sedikit mulai menyatu.

Hari ketiga, tepatnya tanggal 20 September 2017, kami kedatangan tamu special dalam forum diskusi   CR. Susan Rennie  (Darebin City  Council), CR Emilia Lisa Sterjova (Whitlesea City Council) dan CR Anna Speddie, (Walikota Wodonga, City Council). Mereka adalah sosok perempuan Australia yang sukses dibidangnya masing-masing, mereka hadir berbagi pengalaman dengan kami selama dua jam.

Anna Speddie, menjabat Walikota menceritakan bahwa perempuan sebelum melakukan perubahan maka dia harus memahami dulu apa yang harus dilakukan dalam perubahan tersebut, perempuan harus memiliki pengetahuan dan percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki dan membangun jaringan. Pengetahuan adalah kekuatan dan meningkatkan kapasitas sesuai bidang yang ditekuni mutlak adanya serta membangun jaringan untuk saling menguatkan, baik dengan pria maupun wanita.

Anne juga menambahkan bahwa Perempuan tidak harus selalu menjawab dengan retorika sebagai respon permasalahan yang diberikan tapi lebih disarankan langsung aksi, atau berbuat. Meskipun beberapa orang memiliki karakter yang berbeda, ada yang respon dengan bicara ada juga yang merespon dengan aksi, itu sebuah pilihan, yang penting kita mampu menunjukkan bahwa ada bukti dari janji yang kita sampaikan. Selain itu, anna juga berbagi pengalaman bagaimana model kepemimpinan dilakukan sebagai pejabat walikota di wadonga, Victoria. Sebagai pemimpin di tingkat kabupaten, saya memiliki banyak program yang peduli terhadap masyarakat saya, ada 120 layanan yang saya siapkan untuk masyarakat saya. Saya berhadapan dengan masyarakat, mendengarkan keluhan mereka lalu mencari solusi yang dialami.

“Setiap hari, ketika saya ke pasar berbelanja untuk keperluan rumah tangga, saya juga menyapa masyarakat saya dan berdialog dengan mereka, mendengarkan keluhan mereka, saya sangat dekat dengan masyarakat saya, saat ini saya menjabat untuk walikota untuk kedua kalinya, Meskipun saya perempuan dengan busana perempuan, tidak membatasai gerak saya. Kita harus ingat jadilah diri sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dan jangan jadi orang lain untuk sesuatu yang kita akan lakukan. Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki dan membangun jaringan baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.

Selain itu, Anne juga berbagi bahwa sebagai perempuan kita harus saling mendorong dan mendukung partisipasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan da nada dua kata kunci, perempuan harus siap dan rela berbagi pengalaman, perempuan harus berani mengatakan bahwa saya tidak tahu dan apakah anda bisa menolong saya.

Sementara Emilia Lisa Sterjova salah seorang concelor termuda dengan umur 19 tahun   dan fasih berbahasa Indonesia, dia pernah mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia se dunia di Malaysia. Terjun di dunia politik, karena melihat bahwa perwakilan perempuan sangat sedikit yang menyuarakan aspirasi perempuan, berkat dukungan ibunya akhirnya Emilia yang masih berstatus mahasiswa memberanikan diri untuk menjadi salah seorang canditat conselor, meskipun awalnya banyak yang meragukan kemampuannya namun dia mampu membuktikan bahwa usia muda bukanlan usia yang hanya memikirkan dirinya   dengan kehidupan yang glamor tetapi usia muda juga memiliki kepeduian untuk kesejahteraan masyarakat dan bangsanya, hal menarik dari Emilia, ia memaparkan bahwa salah satu tokoh perempuan yang diidolakan adalah Kartini, sosok perempuan yang teguh dengan pendirian untuk kebangkitan perempuan khususnya dalam pendidikan., harusnya perempuan dan laki saling mendukung bukan saling menafikan peran masing-masing.

Barbara yang juga salah seorang cocelor, dengan umur 71 tahun mengisahkan bahwa dulu ada 3  kriteria untuk menjadi anggota concelor yaitu laki-laki, kulit putih dan rambut putih. Hal ini menggambarkan bahwa dunia politik, adalah milik laki-laki padahal banyak persoalan perempuan, yang menangani juga perempuan. Sebelumnya saya juga pernah menjabat Walikota dan suami saya disebut Bapak Walikota, dan pernah diminta menjadi juri fashion pacuan kuda, dinamika kehidupan, intinya bagaimana kita   menjalani kehidupan ini saling berbagi, setara antara peran laki dan perempuan.

Susan Rennie (Darebin City Council), awalnya saya sosok pendiam, namun saya melihat ada ketidak adilan terhadap perjuangan perempuan akhirnya saya pun bicara lantang. Pertanyaannya apakah harus bersuara keras untuk menyampaikan aspiranya atau memperjuangkan hak-hak perempuan, maka jawabnya tidak harus, meskipun kadang-kadang itu perlu agar kita didengar. Paling penting bagaimana semua orang terlibat dalam mendisuksikan bersama pelbagai permasalahan masyarakat.

Yang kami simpulkan pertemuan hari ketiga, adalah perempuan  harus membangun kepercayaan diri, membangun skill dan  komptensinya serta pengetahuan sebagai kekuatan  dalam merespon persoalan disekitarnya secara arif dengan jaringan yang kuat dengan dukungan sepenuhnya baik dari laki-laki maupun perempuan.

Hari keempat, Kamis, 21 september kami diajak mengunjungi queen victora suatu yayasan didalamnya terdapat beberapa lembaga yang melakukan pendampingan terhadap perempuan, diantaranya pendampingan  korban kekerasan perempuan, pendamping perempuan yang mengalami kaker payudadara, kanker Rahim, perempuan yang akan terjun dibidang politik, dan sebagainya.

Ammarie mengisahkan sejarah berdirinya queen victoria, dulu wanita di Australia boleh jadi dokter  tapi tidak bisa praktek karena wanita tugasnya hanya dirumah saja, akhirnya beberapa aktivitas perempuan yang prihatin terhadap permsalahan perempuan di bidang kesehatan akhirnya mencari uang dan berhasil mendirikan yayasan ini sekitar 30 tahun lalu, dan bertahan hingg saat ini. Pengelola lembaga yang ada, mereka adalah sukarelawan dibidang social, tanpa salary atau gaji, tetapi mereka bekerja untuk mendorong perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Pendampingan terhadap perempuan yang cancer, dilakukan sampai mendapatkan fasilitas operasi dan pasca operasi.

Marry cruice pemibcara dari Emili’s salah satu lembaga yang mendampingi perempuan untuk terjuan di bidang politik, mengambil contoh makna femenisme bagaikan penyatuan suara yang salimng mendukung satu dengan yang lainnya sehingga enak didengar oleh siapa pun.

Di Australia tidak menggunakan kouta seperti di Indonesia, karena itu saya menganggap Indonesia lebih siap menerima kehadiran perempuan di ranah politik. Betul meskipun kuota 30 % untuk perempuan bagi masih harus diinjau ulang karena laki-laki masih setengah hati memberikan kesempatan kepada peluang dengan urutan harus, 3 harus 6 dan harus 9. Kenapa tidak harus 1, 2 atau yang lainnya tidak harus ditentukan karena perempuan juga punya kapasitas sebagai pemimpin di ranah politik.

Perempuan memiliki peran ganda, ranah domestik dan publik, sebagai organisais yang endorong partispasi perempuan Helen menjabarkan bahwa kami telah melaksanakan workshop 725 peserta dengan background  yang berbeda lalu terseleksi 245 dan terpilih diantaranya 30 concelor. Saat ini ada 40 walikota di Vicotria adalah perempuan, perempuan memiliki peluang yang sama dengan laki-laki.

Sore hari kami diantar menuju The State Parliamenet of Victoria, melihat langsung proses demokrasi yang berjalan saat persidangan berlangsung.

Hari kelima, Juma’t 22 September 2017, jam 05.30 kami sudah siap berangkat ke Bandara menuju Canberra. Perjalanan ke Canberra menggunakan pesawat Virgin Airport dengan waktu 45 menit. Malam hari kami diundnag diacara yang bertujuan membangun jaringan dari berbagai lembaga di The National Gallery of Australia dengan mengenakan busana daerah masing-masing.

(Humas UMI)

Previous Catatan Leadership Development Course for Islamic Women Leader di Canberra (Part III)
Next UMI Gandeng DPP KAI Sepahami PKPA, Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat

You might also like

Raker Pesantren Darul Mukhlishin Padanglampe

Rapat Kerja Pesantren Darul Mukhlishin Padanglampe berlangsung di Padanglampe (16/1).  dihadiri Dr.Ir.H.Fuad Rumi,MSc, Ketua bidang pengembangan SDM, kampus Islami dan kepesantren yayasan Wakaf UMI, WR 5 UMI Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA., Direktur

UMI Jadi Tuan Rumah, Kapolda Sulsel Siap Dukung Pimnas ke-30

UMI Makassar – Tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional (Pimnas) ke-30, Universitas Muslim Indonesia (UMI), audiensi ke Kapolda Sulsel, Jumat (23/6/2017). Kapolda Sulsel Muktiono tak lupa memberi apresiasi dan

Jumat 7 Desember, DPD RI – UMI Gelar FGD Uji Publik Judical Review Konstitusional Kewenangan DPD RI

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar kembali mendapat kepercayaan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI untuk menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang rencananya akan dilaksanakan Jum’at, 7 Desember 2012 di Ruang