UMI Makassar – Keluarga Besar UMI memperingati Isra’ Mi’raj 1437 H berlangsung di Auditorium Al-Jibra Kampus 2 UMI (16/5). Hadir Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof.Dr.H.Mansyur Ramly, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI H.Mokhtar Noerjaya dan sejumlah jajarannya, Rektor UMI Prof. Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, M.A, para Wakil Rektor UMI, pimpinan fakultas dan seluruh sivitas akademika UMI. Pembawa materi hikmah Isra’ Mi’raj Dr.KH.Syarif Satimin, M.A.

Rektor UMI dalam sambutannya menyatakan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj 1437 H, keluarga besar UMI dirangkaikan dengan Pameran pendidikan dalam rangka Milad 62 tahun UMI. Selain itu, semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj dengan berusaha mencontoh prilaku Nabi dalam menanamkan akhlaqul kariymah, sebagaimana Hadis beliau ” Innamaa buitsu liutammima maqaarimal akhlaq”, artinya sesungguhnya aku diutus kedunia ini untuk menyempurnakan akhlaq manusia, ujarnya.

isra 2016 (2)

Ketua Pembina YW UMI Prof.Dr.Mansyur Ramly menyambut baik kegiatan ini dan salut dengan tema yang diangkat “Isra’ Mi’raj Tinjauan Spiritualitas dan Sains”. Mengingat Spiritualitas dan sains sangat penting dalam kehidupan umat, khususnya di keluarga besar UMI. Para ahli mencoba meneliti mengapa ada ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa di akhirat kelak ada orang yang dibakar kulitnya, kemudian diperbaharui lagi dan dibakar lagi, demikian seterusnya.

“Mengapa kulit harus diperbaharui? Ternyata setelah diteliti kulit yang terbakar akan mati syarafnya, sehingga jika dibakar terus maka tidak ada lagi rasa sakitnya. Itulah hikmahnya mengapa Tuhan memperbaharui kembali kulit tersebut agar manusia merasakan sakitnya berkali-kali,” ujarnya.

Syarif Satimin sebagai Ketua Dakwah Jamiyatul Islamiyah Pusat yang juga Wakil Rektor 2 IAIN Pontianak menyatakan Sains tidak mampu menjangkau peristiwa Isra Mi’raj. Hal ini disebabkan kebenaran sains sebagai kebenaran obtektif tidak bisa mencapai kebenaran absolut. Sebagaimana kebenaran itu, ada 3 tingkatan, yakni obyektif truth (kebenaran obyektif, subyektif truth (kebenaran subyektif), dan absolut truth (kebenaran absolut).

“Seseorang yang kakinya memar karena kena benda tumpul, jika dibawa ke dokter, maka dokter memeriksa dan menganalisa serta memberi obat, dokter bisa tahu letak yang sakit dari kaki tersebut berdasarkan kapasitas ilmunya (sains), itulah kebenaran obyektif. Namun yang paling tahu letak sakitnya adalah pasien tersebut (ini kebenaran subyektif). Sedangkan yang menyembuhkan adalah Allah (kebenaran absolut),” urainya.

Selain itu, Nabi Muhammad Saw dalam melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ditemani Malaikat Jibril. Nabi Muhammad sangat istimewa, karena ia satu-satunya Nabi yang disebut Saw, sementara nabi lainnya hanya disebut as (alaihi salam). Bahkan keistimewaan Muhammad, sebagai Nur Muhammad telah ada sejak Nabi Adam diciptakan. Dikatakannya, harus dibedakan Nabi Muhammad sebagai Nabi yang jasadnya ada di Madinah, tetapi Muhammad sebagai Nur Muhammad merupakan cahaya yang dapat menemani umatnya menemui Allah SWT.

“Bahkan Allah sendiri bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw “Innallaaha wamalaa ikatahu yushalluuna alannabiy…”, urainya.

Dikatakan pula banyak peristiwa yang disaksikan Nabi Muhammad saat Isra’ Mi’raj, diantaranya ada orang yang ditusuk kemaluannya sampai leher, karena waktu didunia ia sering selingkuh, ada juga yang memotong lidahnya sendiri, karena di dunia dia banyak bohong dan menfitnah, dst. Namun hikmah terbesar yang dapat dipetik adalah pelaksanaan shalat 17 rakaat dalam lima waktu yang dapat mencegah manusia berbuat keji dan kemungkaran.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!