UMI Makasar – Peringatan Isra Mi’raj 1438 H/2017 M Keluarga Besar UMI menghadirkan pakar Tafsir al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, M.A (15/5) di Auditorium Al-Jibra Kampus 2 UMI.  Hadir Ketua Pembina YW UMI Prof.H.Mansyur Ramly, Rektor UMI Prof. Masrurah Mokhtar, para Wakil Rektor UMI dan sekitar 1500 peserta.

Prof. Masrurah Mokhtar menyatakan kegiatan ini penting untuk bisa meneladani sifat Rasulullah, khususnya dalam implementasi pelaksanaan ibadah shalat. Kegiatan ini bertema: “Dengan peringatan Isra’ Mi’raj kita menjadi orang yang mushallin”.

Prof.Dr. M.Quraish Shihab dalam ceramahnya menyatakan kata subhaana dalam Q.S. Al-Isra digunakan untuk melihat sesuatu yang menakjubkan, yakni perbuatan Allah SWT. Selanjutnya ayat asra biabdihi laiylan, berarti memperjalankan di waktu malam dengan menempuh waktu sedikit waktu malam.

“Jika dipikirkan perjalanan manusia dari Mekah ke Palestina menempuh 2 sampai 3 jam naik pesawat. Namun perjalanan Nabi disebut supra rasional,” urainya.

Dikatakan setiap persoalan, pasti ada cara menanganinya. Misalnya jika anda menilai cinta di laboratorium, pasti tidak bisa.  Maka untuk memahami Isra Mi’raj apakah bisa dijelaskan dengan sains?

“Banyak pakar berkata tidak ketemu, karena dasar sains adalah pengamatan, trial and error. Untuk itu setiap usaha membahas Isra Mi’raj secara siantifik tidak akan ketemu,” urainya.

Imam Al-Gazali berkata, ada 2 cara mengetahui sesuatu, yakni pelajari siapa yang menyapaiakan atau apa yang disampaikan seseorang. Kalau Abu Bakar Ash Shiddiq masuk Islam karena percaya kepada Nabi. Tapi Umar ra masuk Islam karena mempelajari dulu Islam.

Dikatakan bahwa manusia memiliki 4 daya, yakni : daya  Fisik menghasilakan keterampilan. Daya Fikir menghasilkan lmu dan teknologi, daya qalbu menghasilkan iman dan akhlaq dan daya hidup melahirkan semangat dan mampu menghadapi tantangan. Contoh daya hidup, semut kecil memiliki daya hidup kalau diinjak pasti ia melawan. Itu sebabnya ilmu berbeda dengan iman. Ilmu itu dari otak, iman dari dada.

Untuk Isra miraj, pakai daya qalbu, harapnya. Setiap iman pasti ada tanda-tandanya. Puncak iman adalah yakin dan percaya.

Anda percaya dengan Washington? ya, pernah kesana? tidak. Tapi anda percaya. Karena itu ada namanya ilmul yaqin, aiynul yaqin, dan haqqul yaqin.

“Isra mi’raj adalah supra rasional, yang membenarkannya adalah hati dan iman. Kita tidak memaksakan agama untuk bisa dirasionalkan. Untuk itu percayalah dan lakukan shalat,” kuncinya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!