Universitas Muslim Indonesia, Perguruan Tinggi pertama yang menyambut mahasiswa baru dengan program pesantren kilat. Program ini dicetuskan sejak tahun 90-an.  Setiap mahasiswa baru wajib mengikuti program ini selama tiga hari di pondok pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe, Pangkep yang bertujuan menyambut mahasiswa dengan pendekatan spiritual.  Disadari bahwa mahasiswa yang masuk di UMI berasal dari lembaga pendidikan/sekolah yang berbeda-beda, dan dari tahun ke tahun menunjukkan semakin rendahnya pemahaman/pengetahuan dasar tentang Islam, serta makin tipis kesadarannya tentang akhlaqul karimah.

Pesantren Kilat merupakan   program unggulan UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, implementasi  Tridarma Perguruan Tinggi,  yang bertujuan melahirkan manusia yang berkualitas ulul al abab atau intelektual muslim yang terampil dan ahli sesuai dengan displin ilmunya, dan senantiasa  berzikir dan bersujud kepada Allah SWT yang dilandaskan atas kesadaran diri setiap insan yang melibatkan diri didalamnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. 

Program Pesantren kilat  selain penguatan wawasan,  mahasiswa juga disentuh qalbunya, mereka menerima  pembinaan pencerahan qalbu   dengan harapan dapat meningkatkan pengetahuan dasar keislamannya, dapat tumbuh kesadaran berakhlaqul karimah, sebagaimana visi UMI melahirkan manusia yang berilmu amaliah, beramal ilmiah dan berakhlakul karimah.

Pesantren kilat yang diikuti mahasiswa baru UMI ini,   akan menerima materi pengenalan  UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta pengenalan akademik dan kegiatan kemahasiswan, dengan tujuan dengan penjelasan awal demikian diharapkan di masa mendatang setelah aktif kegiatan akademik di Fakultas/Akademik masing-masing, mereka dapat memposisikan diri sebagaimana mestinya.

Selain  menghadirkan  Pengurus  dan Pembina Yayasan dan Pimpinan Universitas untuk memberikan pencerahan dan wawasan kepada mahasiswa baru, juga hadir sebagai narasumber   Dirjen Belmawa Kemenristekdikti, Ketua LLDikti Wilayah IX, Kapolda Sulselbar, Pangdam XIV Hasanuddin, Kepala BNN Sulsel, Bupati Pangkep, Ketua IKA UMI untuk memberikan wawasan  kebangsaan berbasis karakter dan intgeritas

Program Pesantren Kilat, selain materi wawasan juga diberikan kegiatan ibadah secara intensif, shalat berjamaah di masjid, zikir,dan sebagainya.  Peserta pesantren kilat  diarahkan pada siklus kehidupan dimulai diluar kebiasaan. Bangun pagi dilakukan pada jam 03.00 lewat tengah malam untuk persiapan melakukan shalat malam (shalat lail) berjamaah, wirid dan tadarrus  selama sejam penuh (jam 03.00-04.00). Shalat lail ini dimaksudkan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual. Pada jam 04.00-05.00 membaca Al-Qur’an bersama sebagai sarana untuk mencapai kecerdasan intelektual dan emosional. kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh yang kemudian  dengan zikir Qur’ani, dilanjutkan dengan zikir-zikir khusus untuk menundukkan qalbu dan hawa nafsu. Selanjutnya jam 8 sampai jam 7.30  kegiatan diruangan menerima materi.

Setiap angkatan yang akan mengikuti Pesantren Kilat, berkumpul di Kampus II UMI, di depan Masjid Umar Bin Khattab jam 6 pagi, karena acara pembukaan setiap angkatan dilaksanakan jam 8 pagi di aula Ponpes Darul Mukhlisin Padanglampe.

Sejarah Pendirian Pesantren Padanglampe Pada tahun 1999, pembangunan pesantren dimulai dan diresmikan untuk penggunaannya pada tanggal 22 September 2000 dengan nama Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI dengan sarana dan prasarana yang masih terbatas yaitu Masjid, Asrama, Aula, Kelas dan Kantin.

Pesantren Darul Mukhlisin UMI, dikhususkan sebagai tempat Pencerahan Qalbu bagi civitas akademika UMI dan masyarakat umum. Pesantren ini berlokasi di Desa Padanglampe Kab. Pangkep, kehadirannya tak lepas dari cita-cita luhur para pendiri UMI, untuk membina dan mempertinggi derajat masyarakat lewat pendidikan dan pembinaan keagamaan. Para pengurus yayasan dan pembina UMI sadar melihat fenomena yang berkembang saat ini, di mana sistem pendidikan yang ada sekarang ini, yang lebih menekankan pola treatment atau pembinaan pada pencerdasan otak dalam arti pemberian knowledge dan skill semata, sementara pembinaan akhlaq dan qalbunya terlupakan.

Selama tiga hari setiap angkatan,  di pesantrenkan dengan beragam materi khususnya keagamaan dan pengembangan karakter dan wawasan kebangsaan, maba UMI akan disiapkan makanan selama di lokasi pesantren.

Ide awal lokasi Pesantren ini diperuntukkan sebagai laboratorium lapangan Fakultas Pertanian UMI dengan luas 28 ha dan lahan penggemukan sapi kerjasama dengan pengusaha dari Australia akan tetapi terhambat karena terjadinya krisis moneter.

Desa Padanglampe merupakan salah satu dari 35 jumlah desa binaan UMI. Kehadiran desan binaan UMI ini merupakan inisiatif dari para tenaga pengabdi dari UMI pada tahun 1997. Peresmian Desa Padanglampe sebagai desa binaan UMI oleh Bupati Pangkep A. Baso Amirullah pada tanggal 26 Juli 1997, disaksikan oleh Ketua Yayasan Badan Wakaf UMI Prof. Dr. H. Abdurrahman A. Basalamah serta seluruh pemuka dan tokoh masyarakat desa Padanglampe.

Kini Pesantren Darul Mukhlisin UMI terus berkembang dan senantiasa diramaikan berbagai kegiatan, karena setiap bulan secara bergulir mahasiswa UMI dipondokkan selama sebulan dalam program Pencerahan Qalbu dan diawal penerimaan mahasiswa baru UMI diadakan Pesantren Kilat. Program pencerahan qalbu merupakan model pendidikan karakter berbasis pesantren yang menjadi perhatian baik di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Dalam perkembangannya, bukan hanya mahasiswa baru yang dipondokkan di Pesantren Darul Mukhlishin tetapi pimpinan, dosen, karyawan dan pengurus lembaga kemehasiswaan dalam lingkungan Yayasan Wakaf UMI juga ikut di bina. Pola pembinaan yang dilakukan di pesantren ini, ternyata mendapat respon yang positif dari orang tua mahasiswa UMI, masyarakat dan beberapa instansi pemerintah dan swasta.

Terbukti beberapa instansi pemerintah telah melakukan kerjasama dengan pesantren, seperti Polda Sulawesi Selatan (Siswa Bintara SPN Batua), dan Kopertis Wil. IX Sulawesi, Departemen Agama Prov. Sul-Sel, Maba 07/08 Fak. Teknik UNM Makassar, Universitas Gorontalo, Pemerintah Kab. Pangkep, Badan Diklat Pemda Kab. Pangkep, Pemerintah Kab. Kolaka Majelis Taklim dan juga ada masyarakat umum yang menitipkan anak-anaknya, khususnya pecandu narkoba (obat-obat terlarang).

(HUMAS)