Hari pertama Pesantren Ramadhan Virtual UMI berlangsung mulai pukul 16.20-17.30 Wita dengan menampilkan Video Ketua Pembina YW UMI Prof. Dr. KH. Mansyur Ramly yang membahas tentang Kesalehan Sosial (24/4).

Demikian pula Rektor UMI menyampaikan pentingnya program Pesantren Ramadhan Virtual sebagai jawaban terhadap kegelisahan umat yang harus tinggal di rumah.

Prof. Basri Modding menyampaikan bahwa ibadah tarawih tahun ini berbeda nuangsa pelaksanaannya, jika dulu shalat tarawih lebih banyak dilakukan di masjid, namun tahun ini, akibat penanggulangan penyebaran Covid 19, maka semua harus ibadah,bekerja dan belajar dari rumah sesuai anjuran Pemerintah. Untuk itu, pesantren Ramadhan Virtual UMI ini, sebagai jawaban agar umat dapat menyerap pemahaman agama melalui program pesantren virtual ini.

Sementara itu Prof. Mansyur Ramly mengemukakan pentingnya kesalehan di bulan Ramadhan, bukan hanya meningkatkan kesalehan pribadi, tetapi sangat penting juga memupuk kesalehan social, dengan berusaha membantu saudara kita yang mungkin terpuruk, akibat dampak dari wabah pandemic covid 19, jelasnya.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UMI Dr.Ir.Asbar,M.Si melalui videonya menjelaskan sejumlah keunggulan FPIK UMI, diantaranya 3 prodinya semua terakreditasi A, dengan jumlah tenaga pengajar yang sebagian besar bergelar Doktor dan Profesor, urainya.

Host yang memandu Pesantren Ramadhan Virtual ini, Dr.M.Ishaq Shamad mempersilahkan peserta yang tidak hanya berasal dari Makassar, tetapi juga dari berbagai daerah. Salah seorang peserta dari Bulukumba, bernama Tenri menanyakan “siapa yang berdosa, karena laki-laki sudah beberapa jum’at tidak melaksanakan shalat Jum’at?”, Host menjawab, memang ada Hadis Rasulullah yang menyatakan jika tiga kali berturut-turut tidak shalat jum’at, maka bisa dianggap keluar dari Islam.

Namun hal itu berlaku jika kondisi umat masih normal. Namun seperti situasi sekarang ini, adalah masa darurat, dimana umat diminta untuk tinggal di rumah untuk memutus mata rantai penularan Covid 19, maka tentu tidak berdosa jika tidak melaksanakan jumatan. Tetapi ia berdosa, jika tidak shalat jumat, dan tidak shalat dhuhur.

Ditambahkan kita wajib taat kepada Allah, RasulNya dan Pemerintah, sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan hal itu. Karena Rasul sudah tidak ada, maka penggantinya adalah ulama (al-ulaamaau warasatul anbiyaai/Ulama adalah pewaris para Nabi dan Rasul), sehingga kita wajib mentaati fatwa ulama untuk tetap tinggal di rumah, jelasnya.

Di akhir acara dilakukan refleksi untuk mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi di tengah umat saat ini, dimana kita harus prihatin dan bersabar untuk tetap di rumah, dan tetap bisa produktif dan inovatif, seperti UMI meluncurkan program Pesantren Ramadan dan Interaktif Virtual ini.

(HUMAS)