Haul dikalangan NU hal biasa, namun haul malam ini memiliki keistimewaan dilaksanakan untuk para pejuang NU yang dalam hidupnya berperan aktif di kancah nasional. Kadang kita tidak pernah ingat atas jasa beliau, karena itu malam ini kita hadir untuk mendoakan beliau secara berjamaah, Insya Allah mendapatkan tempat yang layak disisiNya, hal ini disampaikan Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar dalam sambutannya pada haul pekuang NU dikantor PBNU (10/4).
Insya Allah pada Bulan Juli 2019 di Gedung MPR yang memuat 7000 kita akan gelar haul pejuang NU. para ulama masyahid insya allah diharapkan mengalir pahalanya. 294 ulama yang tercacat dalam backdrop telah berkiprah untuk kejayaan NU. Kami yakin masih banyak ulama para tokoh yang dalam hidupnya telah berjuang untuk NU, duta besar yang memperjuangkan NU. Karena itu tidak hanya 294 tapi seluruh ulama, tokoh agama tokoh, masyarakat yang telah berjuang untuk kejayaan NU, kita semua berdoa dalam cahaya di sisi allah di syurga berkumpul bersama.
Haul untuk pejuang NU? pejuang bangsa dan negara akan menjadi agenda tahunan kita berkumpul dan berdoa insya Allah dikabulkan, semua perjuangan beliau mendapatkan rahman dan rahim Allah SWT, Bangsa yang besar menghormati para pahlawannya. NU makin besar menghormati ulama-ulamanya.
siapapun yang memperjuangkan NU akan jadi murid mbah hasyim dan menjadi husnul khatimah.
jayalah NU jayalah aswaja jayalah indonesia raya Ketua Umum PBNU NU Prof. Dr. Agil Siradj, MA. Dalam sambutannya mengatakan Menurut Kiai Said ada dua hal yang harus diperjuangkan nahdliyin, yakni membangun himmah dan azimah. Sementara dalam diri manusia terdapat dua jenis hawa nafsu yang menjadi perangkat, yakni nafsu ghadlabiyah dan syahwatiyah.
“Kita ini yang kurang membangun himmah dan membangun azimah”. Nafsu ghadlabiyah merupakan ambisi yang besar, seperti menjadi pejabat, ketua umum partai politik, ataupun ketua umum organisasi. Tetapi, jika seseorang mempunyai niat, cara dan tujuan yang baik terhadap ambisi tersebut, maka dinamakan himmah.
“Kalau niatnya baik, kalau caranya baik la tadzlimun wa la tudzlamun, gak nyakitin siapa-siapa dan tujuannya baik maka ketika berhasil menjadi yang kita mauin, (namanya) bukan nafsu ghadlabiyah, (tapi) namanya himmah.
Sementara nafsu syahwatiyah ialah ambisi untuk memiliki banyak harta, seperti mempunyai perusahaan, rumah mewah, dan kendaraan yang bagus, tetapi kalau niat, cara, dan tujuannya baik tidak lagi disebut dengan nasfu syahwatiyah, melainkan azimah.
Sebelumnya Kiai Said menegaskan bahwa pembacaan tahlil untuk para pejuang NU diterima Allah Swt. Sebab, rahmat Allah terbuka. Allah menerima amal hamba-Nya sekalipun amalnya tidak sempurna.
Prof. Agil menyakini bahwa kelak di akhirat, Nahdliyin berkumpul dengan para pejuang NU, seperti Mbah Hasyi Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri, dan KH Romli. “Kita yakin, kita ini min ahlil haq. Insyaallah min ahlil Jannah, ikut beliau-beliau yang telah berjuang untuk NU. Malam ini merupakan haul pertama untuk para pejuang NU, Insya Allah akan menjadi agenda setiap tahun.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Basri Modding, SE.,MSi, di sela-sela acara mengatakan kehadiran kami dalam haul ini memenuhi undangan PBNU. salah seorang pendiri NU, almarhum almukarram KH Muh. Ramly juga Pendiri NU ayahanda dari Bapak Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE.,Msi, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI. Kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja di Sulawesi, khususnya di Makassar, karena belum adanya perguruan tinggi Islam ketika itu, sedang penduduknya mayoritas muslim.
Pada pertengahan tahun 1952, ide untuk mendirikan perguruan tinggi Islam sudah mulai bergulir, para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja (pemerintah) di Sulawesi sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang bernama “Universitas Muslim Indonesia”. Peresmian pendirian UMI dilakukan di Gubernuran Makassar pada tanggal 23 Juni 1954 bertepatan dengan 22 Syawal 1373 H, yang ditandai dengan penandatangan Azas Piagam Pendirian UMI oleh K.H. Muhammad Ramly (Dewan Mahaguru), La Ode Munarfa (Dewan Kurator), Sutan Muhammad Yusuf Samah (Badan Wakaf) dan Chalid Husain (Sekretaris). UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah mengemban tugas melahirkan sumberdaya manusia yang berilmu amaliah beramal ilmiah dan berakhlakul karimah.
Haul Para Pejuang NU diadakan berkat kerja sama antara PBNU dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Tampak hadir Rais ‘Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar; Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf; Sekjen PBNU, H. Helmy Faishal Zaini; Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif.
Hadir dari UMI , Ketua Pembina yang juga putra KH Muhammad Ramly, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE.,MSi., Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, H. M. Mokhtar Noer Jaya, SE.,Msi. Wakil Ketua Pendidikan YW UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA, Sekertaris Pengurus Dr. Ir. H. Lambang Basri, MT., Sekretaris Pengawas .Prof. Dr. H. Syahrir Mallongi,SE.,Msi, Rektor UMI Prof. Dr. H. Basri Modding., SE.,Msi, Wakil Rektor, Asdir II PPs UMI Prof. Dr. H. Sufirman Rahman, SH.,MH.

(HUMAS)