Diskusi amaliah Ramadhan berlangsung di lantai 1 Masjid Kampus 2 UMI (6/8) dengan tema “Puasa dan Kesehatan Mental”. Narasumber Prof.Dr.H.M.Jufri, S.Psi, M.Si (Guru Besar Psikologi Universitas Negeri Makassar). Hadir Wakil Rektor (WR) III UMI Prof.Dr.H.Achmad Gani, WR V Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA, Ketua LPDKI UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA, sejumlah wakil Dekan dan staf dalam lingkup UMI.

Menurut Prof.M.Jufri, kesehatan mental berbicara tentang jiwa dan aspek kejiawaan ini bersifat abstrak (tidak dapat dilihat). Namun jiwa itu dapat dilihat melalui ekspresi dan perilaku yang tampak. Selain itu, kesehatan mental adalah sejahtera secara kognitif, emosional dan bebas dari gangguan mental. Namun sering terjadi ketidak konsistenan antara ekspresi wajah dengan isi hati seseorang. Oleh karena itu, ilmu psikologi membicarakan tentang prilaku manusia.

Dikatakan pula bahwa setiap hari stres bisa muncul sebagai akibat konflik dan frustasi. Untuk itu, kita harus memiliki mental dan tubuh yang sehat. Oleh karena itu, stres harus diatasi karena jika tidak ditangani, maka bisa menjadi depresi, neurosis, psikosa (tingkatan stres yang parah).

“Beruntunglah ada bulan Ramadhan yang sangat baik, sebagai momentum terapi untuk membuat mental kita secara lebih baik,” ungkapnya.

Disisi lain, kesehatan mental menurut WHO adalah menyadari kemampuan dirinya, mampu mengelola tekanan hidup, bekerja produktif dan sukses serta berkontribusi kepada masyarakat. Karena  90% manusia sakit karena adanya gangguan mental. Untuk itu, mengapa kesehatan mental penting? Karena emosi yang sehat berhubungan dengan perilaku prososial (suka menolong), stress manajemen, dan kesehatan fisik.

“Puasa sangat luar biasa karena mampu kita menyelami emosi kita dan  bisa mengendalikan emosi yang marah,” tambahnya.

Karena itu kita lebih santun, arif dan suka berbagi kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Salah satu konsep berbagi bahagia dengan banyak senyum. Senyum adalah bagian dari ibadah dan bisa menolong orang dari kegalauan.

Di bulan suci ini, kerja otak kiri dan kanan semakin intens. Oleh karena itu, puasa mampu menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan dan pemenuhan keinginan. Selain itu, produktifitas dalam bulan puasa bisa lebih produktif karena lebih banyak berdo’a.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!