Puncak Peringatan Maulid, UMI Hadirkan Wamenag RI Era SBY

UMI Makassar – Puncak Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw 1437 H Keluarga Besar UMI menghadirkan Wakil Menteri Agama RI Era Presiden SBY, Prof.Dr.H.Nasaruddin Umar, M.A di Masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI (22/12).

Hadir Ketua Yayasan Wakaf UMI H.M.Mokhtar Noerjaya beserta jajaran Pengurus YW UMI, Rektor UMI Prof.Dr. Hj.Masrurah Mokhtar, M.A dan para Wakil Rektor UMI, sejumlah Dekan, Direktur Pasca UMI, Ketua Lembaga, dosen, karyawan dan mahasiswa UMI.

maulid 2015 (2)

Ketua YW UMI dalam sambutannya menyatakan kegiatan Maulid Nabi sebagai ajang untuk merenung dan melihat kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai landasan dalam menyuarakan etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari, jelasnya.

Rektor UMI Prof.Masrurah Mokhtar, M.A menyatakan kegiatan Pekan Maulid UMI dengan berbagai kegiatan, diantaranya lomba hafal Al-Qur’an juz 30 bagi mahasiswa, dosen dan karyawan UMI. Selain itu, dapat dijadikan momentum melihat kondisi sosial di masyarakat yang semakin kompleks.

Prof.Nasaruddin Umar dalam penyampaian Hikmah Maulid Nabi juga menyinggung bahwa hari ini juga sebagai Peringatan Hari Ibu 22 Desember dan sangat tepat, apalagi Rektor UMI termasuk salah satu 6 Rektor berasal dari wanita, hanya di Sulsel.

maulid 2015 (3)

“Manusia yang paling sensitif adalah Nabi Muhammad Saw bukan hanya semasa hidupnya bahkan setelah wafatnya. Hal ini dilihat dalam Al-Qur’an dimana Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi/ memberikan ucapan selamat,” jelasnya.

Selain itu, kita tidak pernah mendengarkan kata almarhum bagi Nabi. Setiap kita bershalawat- assalamu alaiyka ya ayyuhannabiyyu. Ketika kita berdiri untuk memuliakan dan memohon berkah, seperti dalam buku Berzanji yang hebat, karena belum ada buku Sastra yang bisa menandingi buku Berzanji. Walaupun ada adat di dalam Maulid. Namun tidak sempurna syariat tanpa adat. Maulid ini adat. Hal ini sama dengan Bahasa Arab ada hak Budaya di dalamnha, termasuk di Sulsel juga boleh memasukkan hak budaya dalam kehidupan Islam dan setiap budaya berhak menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Demikian pula tidak semua taqrir Nabi mesti harus diikuti. Misalnya Rasul makan dengan 3 jari tangan karena makan roti. Tapi makan nasi tidak bisa kenyang dengan pakai 3 jari. Contoh lain, di Arab Saudi pakai cadar karena Musim panas yang sangat tinggi. Tidak mesti dikuti semua. Orang dilarang pakai cadar saat wukuf di Arafah.

Dikatakan cadar adalah budaya. Tapi jangan dihalangi orang pakai cadar/ jangan mengejek. Itulah sebabnya kita perlu menerima perbedaan. Mustahil kita bisa bersatu sebagai umat yang satu. Jadi perbedaan adalah Sunnatullah dan menantang sunnatullah, bisa menimbulkan masalah.

Selanjutnya dikatakan, di dalam Al-Qur’an disebutkan waqabaila litaarafuu, yakni saling kooperatif dan saling mrnghargai. Jika mau menyatu naiklah ke atas untuk semakin menyatu, namun ke bawah bisa berbeda. Karena itu jangan mudah menyalahkan orang lain, jika ini terjadi maka kita harus banyak belajar. Orang Arief itu, tidak  menyalahkan orang lain, dan tidak menyalahkan keadaan, serta diri sendiri. Tapi memberi solusi secara diam-diam untuk memperbaiki keadaan.

(Humas UMI)

Previous Pekan Maulid: Lomba Menghafal Al-Qur'an Juz 30
Next Lagi, Diseminasi Program Unggulan UMI bagi Siswa Madrasah Aliyah

You might also like

Mahasiswa Ilmu Komputer UMI Dilatih Jadi Da’i

UMI Makassar – Rektor UMI Prof.Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, M.A menyatakan salut dan hormat kepada segenap pimpinan Fakultas Ilmu Komputer UMI karena mampu menghadirkan peserta pelatihan da’i/da’iah lebih dari yang diharapkan. Hal

Rektor UMI Kunjungi Lokasi KKP di Galut

Mahasiswa KKP FK UMI hadirkan kegiatan Pelayanan Kesehatan UMI Makassar – Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Prof.Dr. Hj. Masrurah Mokhtar,MA., melaksanakan kunjungan ke lokasi KKN UMI yang terpusat di

Silaturrahim Civitas Akademika UMI Sambut Ramadhan

Silaturahmi sivitas akademika UMI menjelang bulan suci Ramadhan, di Auditorium Al Jibra Kampus II UMI, Rabu 17 Juni 2015. (Humas UMI)