UMI Makassar – Seorang dosen dalam melaksanakan amanah sebagai pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu tapi juga harus dibarengi dengan keteladanan. Hal ini diamanahkan Prof Dr H Quraish Shihab, MA dalam kuliah umum dengan tema manajemen pendidikan Islam kontemporer dalam perspektif Islam yang dilaksanakan Program Pascasarjana (PPs) UMI di aula PPs UMI (28/1).

Hadir dalam acara tersebut ketua pengurus Yayasan Wakaf UMI H Muh Mokhtar Noer Jaya, Rektor UMI Prof Dr Hj Masrurah Mokhtar MA, Direktur PPs UMI Prof Dr H Basri Modding Msi, Sekretaris Yayasan Wakaf UMI Dr Ir H Lambang Basri MT, wakil rektor I bidang akademik UIN Alauddin Makassar Prof Dr H Ahmad Sewang MA, pimpinan fakultas dan ketua lembaga dalam lingkup UMI, pejabat dalam lingkup PPs dosen dan mahasiswa PPs UMI.

Salah satu problematika pendidikan di Indonesia sejak dulu adalah peran guru dalam belajar mengajar seharusnya memahami betul peserta didik dan memperlakukannya  sebagai manusia secara utuh.

“Karena boleh jadi adanya anak nakal, tidak disiplin akibat perlakuan yang tidak wajar dengan memperlakukan mereka bukan sebagai manusia, dan tidak mengarahkan manusia sebagai malaikat tapi manusia sebagai manusia seutuhnya dan manusia bukan juga binatang,” jelasnya.

Berbicara tentang manusia menurut penulis buku Mukjizat Al-Quran ini mengatakan bahwa manusia bukan hanya terdiri atas jasmani. Bukan hanya akal dan rohani, tapi manusia ada jiwa karena itu mendidik anak tidak hanya akalnya dan rohaninya karena hal tersedia bukanlah pendidikan yang sesuai dengan Islam.

Dalam konteks pendidikan Islam, peserta didik sebagai manusia seutuhnya memiliki potensi atau daya pokok yang harus dibina, yaitu; fisik, pikir, qalbu dan hidup dalam pengertian melatih fisik akan melahirkan manusia yang terampil selanjutnya mengasah daya pikir melahirkan ilmu dan teknologi sedangkan melatih daya qalbu, maka akal melahirkan keberagamaan dan kepekaan akhlak sebab qalbulah yang melahirkan akhlak dan terakhir melatih hidup yang akan melatih diri untuk bertahan hidup.

“Karena itu seorang pendidik dalam melakukan pendidikan mengembangkan potensi yang ada pada peserta dengan melihat kecendrungan dominan dengan menekankan salah satu daya kecendrungan yang dimiliki,” jelasnya.

Quraish Shihab menambahkan bahwa seorang pendidik/dosen harus memiliki kompetensi tertentu tidak harus multi kompetensi. Misal seorang dosen sejarah tidak harua dilaksanakan pandai berbahasa Inggris saat ini tidak bisa lagi dilaksanakan seorang seperti ilmuwan dengan multi kompetensi yang dimiliki seperti ulama Ibnu Sina yang dikenal sebagai ilmuwan kedokteran, musisi dan sebagainya.

“Seorang dosen tidak hanya bertugas menyampaikan dengan tujuan untuk penyampaian persepsi. Dalam Al Quran, Allah memberikan penjelasan bagaimana proses pembelajaran kepada nabi Adam diawali dengan mengajarkan nama-nama atau kata benda bukan kata kerja,” urainya.

Lanjut dikatakan, seorang pendidik dalam mengajar ilmu harus menberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa sebab kalau mahasiswa tidak paham, maka pada dasarnya dosen tidak mengajar tapi hanya memberitahu. Kita harus belajar pada empat hal metode yang dilakukan Nabi Muhammad, yaitu; mengajarkan kitab suci Al Qur’an, Al Khidmah yang dimaknai dengan berilmu amaliah dan beramal ilmiah, tazkiyah yang berati mensucikan dan mengembangkan potensi yang merupakan anugrah yang luar biasa yang diberikan Allah kepada manusia.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!