Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) yang juga Wakil Dekan IV Fakultas Teknik UMI, Dr. Hj. Nur Setiawati Mappaselleng, M.Ag meraih Gelar Doktor di Universiti Utara Malaysia (UUM) pada, Ahad 20 Oktober 2019 di Malaysia.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum UMI, Hj. Nur Fadhilah Mappaselleng, Ph.D yang juga alumnus Universiti Utara Malaysia (UUM) dan merupakan kakak kandung, Nur Setiawati.

Dr. Nur Setiawati berhasil mempertahankan Disertasinya di depan tim penguji serta Promotor, Prof. Dr. Ahmad Zaharuddin yang sukses meraih Doktor Philosofi (Ph.D) dengan yudisium sangat memuaskan di Universiti Utara Malaysia (UUM).

Prosesi Ujian Promosi Doktor itu dihadiri sejumlah kolega/dosen dan karyawan dari UMI, Makassar. Hal yang menarik, beberapa tahun sebelumnya Nur Setiawati yang tercatat telah mengabdi di UMI sejak 10 Oktober 1997 (selama 22 tahun itu) di Fakultas Agama Islam UMI itu juga telah meraih gelar doktor (Dr) di UIN Alauddin, Makassar. Dengan demikian, ini merupakan gelar doktor yang kedua kalinya, tandas Nur Fadhilah.

Selama ini ia dikenal aktif dalam bidang dakwah dan naskah Tulkiyamat tersebut melanjutkan studi S3 ke UUM Malaysia atas dukungan beasiswa siswa Pemerintah Provinsi Sulsel era kepemimpinan, Gubernur Sulsel, Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, SH.MH.

Dosen tetap Yayasan Wakaf UMI di tengah kesibukannya di kampus dan kegiatan sosial kemasyarakatan dalam berbagai organisasi itu, juga aktif menyisihkan waktu dalam bidang naskah Tulkiyamat sebagai media dakwah dalam tradisi masyarakat Makassar di Desa Sanrobone, Takalar.
Naskah Tulkiyamat itu, merupakan sebuah karya leluhur tulisan berbahasa Makassar yang dipelihara orang Makassar, khususnya di Sanrobone, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Biasanya naskah bernuansa religius tersebut dibacakan saat ada duka, terutama kematian/takziyah. Naskah tersebut berisi riwayat, yang menggambarkan suasana ketika seseorang menjelang kematian serta saat-saat sakaratul maut dan informasi mngenai pedihnya adzab di alam barzah (penantian).

Naskah Tulkiyamat yang berisi pesan-pesan kebaikan tersebut, hingga dewasa ini masih sangat sering dibacakan secara turun temurun di Desa Sanrobone, Takalar. Tulkiyamat. merupakan pengingat betapa perlunya berbuat baik di dunia yang sifatnya hanya sementara ini, tutur Nur Fadhilah Mappaselleng yang juga penulis disertasi yang kini telah dijadikan buku ”Penguatkuasaan Undang-Undang Jenayah dan Kes Siri’ di Sulawesi Selatan itu.

(HUMAS)