Rektor UMI bersama Wakil Rektor V Hadiri 7th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) University of Darussalam Gontor (3-4 Desember 2019)

Posted by Umi Makassar on Tuesday, December 3, 2019

Alhamdulillah, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Ponorogo, tepatnya Universitas Darussalam Gontor, yang selama ini sering kami mendengarnya tentang kebesaran Pesantren Gontor, Alhamdulillah, akhirnya kami juga bisa sampai di sini dengan selamat, ujar Rektor UMI, Prof. Dr. H. Basri Modding,SE.,MSi., yang didampingi Wakil Rektor V, bidang kerjasama Prof.Dr. Ir. H. Hatta Fattah,MS, saat bertemu dengan Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof.Dr. Amal Fathullah Zarkasy,MA.,yang didampingi WR I, dan WR III, Dr. Abdul Hafidz Zaid, M.A. diruangan beliau pukul 08.30.

Kami mengucapkan terima kasih atas undangan Pak Rektor UNIDA menghadiri 7 th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) dengan tema “Kebangkitan Keuangan Sosial Islam Untuk Memeprkuat Pembangunan Ekonomi Menuju Revolusi Industri Global, yang berlangsung tanggal 3-4 Desember 2019 yang dirangkaina dengan pendantangan MoU dan MoA. Kami juga mohon maaf karena baru hari ini bisa kami memenuhi undangan Bapak, dari keempat kalinya kami diundang disini, terima kasih, dan insya Allah dengan kehadiran kami menjalin silaturrahmi, saling menguatkan kedua institusi Islam dalam upaya melahirkankan SDM yang berkualitas, professional, dan berkarakter, ujar Prof. Basri yang juga alumni Fakultas Ekonomi UMI ini .

Pada kesempatan tersebut, Rektor UNIDA Gontor, Prof.Dr. Amal Fathullah Zarkasy,MA memperkenalkan kepada Rektor UMI dan tetamu yang hadir, bahwa Universitas Darussalam Gontor lahir dari cita-cita tiga orang ulama pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani, dan K.H. Imam Zarkasyi dikenal kemudian sebagai Trimurti, Pada tahun 1926 dengan tekad yang kuat mulai membuka lembaga pendidikan rendah yang disebut Tarbiyatul Atfal yang kemudian pada tahun 1936 ditingkatkan menjadi pendidikan menengah yaitu Kulliyatul Muállimin al-Islamiyyah (KMI). Pada tahun 1963, lahir Instiitut Pendidikan Darussalam (IPD), yang menjaid cikal bakal terbentuknya Universitas Darussalam Gontor yang diresmikan tahun 2014 dengan visi “Menjadi universitas unggulan yang mengintegrasikan sains, teknologi dan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu keislaman dan tetap mengikuti perkembangan zaman pada tahun 2030”.

Rektor UNIDA, menyampaikan bahwa conference International 7 th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) merupakan agenda rutin diselenggarakan bersama oleh Dewan Internasional Pendidik Keuangan Islam (ICIFE), Universitas Darussalam Gontor Indonesia, Universitas Negeri Mindanao (MSU) Filipina , Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Fathoni Thailand, dan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Universitas Tazkia. AICIF yang ketujuh ini menghadirkan speaker Prof. Monzer Kahf (Turki) dan Prof. Khalaf Sulaima Shalih Annimary (Saudi Arabia) dan peserta utusan PT dalam dan luar negeri.

Sistem keuangan Islam tidak hanya berhubungan dengan keuangan komersial di bawah sistem ekonomi Islam, tetapi juga berhubungan dengan keuangan sosial dengan tujuan yang sama untuk mencapai keridhoan Allah. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh sektor keuangan sosial Islam yang terdiri dari berbagai moda keuangan nirlaba, zakat, wakaf, dan lembaga keuangan mikro nirlaba. Di sektor ini, lembaga harus mengatasi masalah keberlanjutan dalam penyediaan dana. Aliran dana sosial yang stabil membutuhkan penerimaan dan kredibilitas sosial yang tinggi. Selain itu, inovasi teknologi telah mengubah industri jasa keuangan selama dekade terakhir, dan gangguan lebih lanjut terhadap sektor keuangan tradisional hampir pasti. Identifikasi tantangan-tantangan ini adalah langkah pertama yang ditemui dalam bidang tersebut.

Karena inovasi teknologi dan sistem keuangan saling berhubungan erat, dalam menghadapi perubahan yang cepat ini, para regulator perlu menemukan keseimbangan yang hati-hati, antara stabilitas dan efisiensi. Mengingat munculnya inovasi teknologi dan tantangannya terhadap pembangunan ekonomi serta sektor jasa keuangan, khususnya lembaga keuangan Islam sosial, reformasi regulasi mungkin diperlukan untuk mempertahankan kerangka kerja pengawasan yang efektif dan responsive, ujar Prof. Dr. Amal.

(HUMAS)