Makassar, umi.ac.id – Makassar merupakan salah satu kota metropolitan yang menjadi pintu gerbang menuju kawasan Indonesia Timur. Makassar tumbuh dan berkembang didukung dengan berbagai fasilitas modern seperti mall, hotel berbintang, apartemen mewah dan pembangunan lainnya. Namun, perkembangan tersebut tidak terlepas dari adanya masalah sampah. Bahkan daerah perkotaan seperti Makassar merupakan daerah yang menghasilkan banyak sampah.

Seperti di Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakukang, tepatnya di belakang kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) seluas kurang lebih 6000 m2 yang tidak termanfaatkan. Terdapat sungai yang kondisinya kumuh, dipenuhi sampah sehingga berpeluang menimbulkan penyakit dan pencemaran lingkungan di Kelurahan Pampang dan lingkungan UMI.

Melihat kondisi tersebut, UMI sebagai kampus dakwah yang berkomitmen meningkatkan kemaslahatan umat, melakukan revitalisasi Sungai Pampang. Revitalisasi bertujuan agar air sungai bisa berjalan sesuai fungsinya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya dari sisi sosial, ekonomi dan kesehatan.

Sebelum melaksanankan revitalisasi Sungai Pampang, pihak dari Yayasan Wakaf UMI melakukan sosialisasi terkait dengan rencana tersebut kepada masyarakat disekitar lokasi perencanaan revitalisasi sungai, yang digelar di Masjid Babul Taqwa, Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, (09/01/2020)

Turut hadir Ketua Bidang Perencanaan dan Program Yayasan Wakaf UMI, Ir. H. Lambang Basri Said, MT., Ph.D., Ketua Bidang Usaha Aset dan Rumah Sakit Yayasan Wakaf UMI, Dr. Ir. H. Anas Boceng, M.Sc., Tim Perencana Revitalisasi Kawasan Kumuh Sekitar Kampus II UMI, Ketua RW 02 Kelurahan Pampang, Ketua LPM, Babinsa dan Tokoh Masyarakat.

Ketua Bidang Perencanaan dan Program Yayasan Wakaf UMI Ir. H. Lambang Basri Said, MT., Ph.D., mengungkapkan. “Sungai yang berbelok-kelok sebelumnya terkesan kumuh, kotor, bau, merusak lingkungan bahkan mubadzir karena tidak digunakan, sehingga UMI berinisiasi untuk mengelola,” ujarnya.

Sebelum melakukan revitalisasi, kata Lambang Basri Said, Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Departemen Pekerjaan Umum mengajak UMI untuk melakukan diskusi. “Hasilnya bahwa berdasarkan peraturan yang berlaku maka UMI diharapkan memenuhi persyaratan. Antara lain mengajukan proposal lengkap dengan pertimbangan teknis dan kajian makro yang berkaitan dengan ekonomi, sosial dan lingkungan,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Lambang, UMI diberikan ruang untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan melibatkan tim dari bidang sosial, ekonomi, lingkungan, termasuk bidang teknis yang selama ini sudah berjalan.

“Melalui sosialisai, UMI berharap akan terjadi afiliasi kegiatan antara masyarakat kampus dengan masyarakat umum. Jadi tri dharma perguruan tinggi bukan hanya dibebankan kepada civitas akademika tetapi lembaganya juga perlu melakukan aktivitas tri dharma. Terutama bagaimana mengembangkan kemaslahatan umat melalui peran UMI sebagai kampus dakwah,” katanya.

Selain itu, balai juga akan membantu UMI menginteraksikan dengan berbagai pihak yang memberikan dampak positif terhadap revitalisasi tersebut. Adapun pelaksanaan revitalisasi, Lambang mengatakan, setelah mendapat legitimasi pengelolaan Sungai Pampang, maka UMI akan menyusun schedule strategi pembangunan.

“Melalui revitalisasi Sungai Pampang ini, UMI berkomiten sebagai kampus yang mengembangkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Lambang.

Junaedi, ketua RW 02 Kelurahan Pampang menyambut baik revitalisasi Sungai Pampang yang akan dilakukan oleh UMI. “Kami sebagai warga di Pampang sangat setuju dengan rencana revitalisasi sungai pampang yang akan dilakukan UMI,” ungkapnya.

Junaedi berharap agar revitalisasi tersebut dapat terealisasi, sehingga memberi dampak positif kepada masyarakat.

(HUMAS)