sem.inter.eko.edit

“Jika tidak ada Fakultas Ekonomi UMI, maka Universitas Muslim Indonesia tidak akan exis sampai sekarang”. Demikian pernyataan Prof.Dr.Halide dalam Seminar Internasional FE-UMI di Hotel Singgasana Makassar (24/12) yang dihadiri lebih 200 perserta dari berbagai kalangan. Prof.Dr.Halide menceritakan sejarah UMI ketika fakultas ekonomi mau dialihkan, namun mahasiswa FE-UMI saat itu menolak. Selain itu, Prof.Halide yang juga ikut dalam pembentukan lahirnya Islamic Developement Bank menyatakan konsep filosofi ekonomi berasal dari konsepsi Islam. Menurutnya konsep ekonomi Islam harus berdasar pada prinsip kemakmuran manusia untuk pengabdian kepada Allah Swt. Dikatakannya kata ekonomi tidak ada dalam Al-Qur’an tetapi yang ada adalah Iqtishad. Selain itu, Ekonomi Islam tidak hanya berkaitan dengan Bank, tetapi terkait dengan berbagai hal seperti asuransi, pasar modal dan multi finance, dsb.

Prof Syed Musa Syed Jaafar Al-Habshi, ahli ekonomi Islam dari Malaysia memaparkan perkembangan Ekonomi Islam di Malaysia dan Singapura. Menurutnya sistem ekonomi syariah di Malaysia tidak terlalu banyak menggunakan term-term yang ke arab-araban (mudharabah, musyarakah, dsb), karena warga non muslim disana kurang mengerti, tetapi tetap menggunakan istilah ekonomi umum dengan menambangkan huruf I dibelakangnya, misalnya insurance-I, dsb, namun dalam aplikasinya menggunakan kontrak berdasarkan syariah, sehingga konsep bisnis tersebut bisa diterima berbagai kalangan/pelaku ekonomi di Malaysia dan Singapura. Prof. Syed Musa menyatakan inti sistem ekonomi berbasis syariah bermuara pada kehidupan manusia yang lebih baik dengan sikap dan prilaku sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Mahlani (mewakili Islamic Development Bank) berharap alumni FE UMI suatu saat bisa menjadi Menteri Keuangan di Indonesia. Harapan ini muncul mengingat ekonomi kapitalis sudah runtuh, sehingga peluang sistem ekonomi Islam akan bisa menawarkan konsep untuk kemakmuran manusia. Mahlani menyarakan FE-UMI membuka Program Studi Ekonomi Islam agar dapat menopang konsep-konsep ekonomi Islam.

Prof.Dr.H.M.Nasir Hamzah, menyatakan konsep ekonomi Kapitalis memang sudah jatuh, tapi di Indonesia justru pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia banyak mempraktekkan ekonomi kapitalisme, dicontohkan para caleg harus berkantong tebal untuk bisa sukses di dunia politik. Selain itu menurutnya¬† konsep ekonomi Islam berdasarkan pada Alqur’an yang melarang manusia tidak melampaui batas. Dikatakan pula peran ekonomi syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sekitar 28% pertahun. Namun beberapa masalah yang dihadapi ekonomi Islam masih parsial dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang ekonomi Islam.Demikian pula peran ulama, muballig, termasuk akademisi masih kurang, bahkan praktisi bank-bank juga setengah hati dalam mengembangkan ekonomi syariah. Untuk itu dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk memajukan ekonomi Islam.

Pembicara terakhir dalam seminar internasional ini Dr.Muhlis Sufri sebagai Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Sulsel. Dikatakannya, sistem ekonomi Islam menjadi solusi alternatif terhadap carut marutnya ekonomi dunia, termasuk krisis ekonomi yang dialami masyarakat di Amerika Serikat. Menurutnya kata kuncinya adalah kewajiban kita semua mengembangkan ekonomi syariah, bukan lagi sebagai alternatif tetapi ekonomi syariah sudah wajib dipedomani dalam kegiatan ekonomi kitan kuncinya.

(Humas UMI)