Seminar Kesehatan Reproduksi Perempuan berlangsung di Gedung NU Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (24/3). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Agama Islam UMI. Pembicara Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA dan dr.H.M.Khidri Alwi,M.Kes dengan tema “Menjadi Muslimah Sehat untuk Generasi Cerdas, Sadar, Setara, dan Produktif di Tengah Arus Globalisasi”.   Ketua Rayon FAI UMI Nurhidayah dalam sambutannya menyatakan, “Tujuan pelaksanaan Seminar ini diharapkan agar perempuan dapat membentuk generasi bangsa yang cerdas ke depan,” katanya.

Dalam pemaparannya dr.Khidri, M.Kes, menyatakan bahwa perempuan paling rentan terhadap penyakit tertentu disebabkan oleh kesehatan reproduksinya, misalnya masa kanak-kanak 0-12 tahun mereka rentan terhadap infeksi pernafasan, radang usus, kurang gizi, perlakuan kasar dan kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian masa remaja 12-18 tahun, mereka rentan kawin muda, kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi, dan kekerasan seksual. Selanjutnya masa dewasa (18-45) dengan masalah kawin muda, masalah kesehatan kerja, perceraian, kematian dan sebagainya. Kemudian masa tua (di atas 45 tahun) dengan berbagai masalah manopouse, kesepian karena kematian suami, masalah nutrisi usia lanjut. Manusia tertua di Jepang adalah perempuan dengan umur 120 tahun. Dikatakan pula setiap detik manusia lahir dan kematian terbesar karena kehamilan dan kelahiran.

Sementara itu Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA membahas tinjauan kritis Islam terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Ishaq menyatakan, “Islam menganjurkan pentingnya kesehatan reproduksi dan mendorong setiap individu untuk bertanggung jawab atas fungsi reproduksi mereka. Selain itu Islam juga mengajarkan bahwa kita harus menghormati dan bertanggung jawab terhadap tubuh kita sendiri dan untuk menghormati privasi orang lain. Islam juga mengajarkan manusia bukan hanya dimintai pertanggung jawaban atas berbagai sikap dan tindakan kita sendiri, tetapi kita juga harus bertanggung jawab atas apa yang bisa kita kendalikan atau kita pengaruhi,” urainya.

(Humas UMI)