Silaturahim Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Rektorat UMI, Direktur RS Ibnu Sina dan Pimpinan Unit Usaha dengan sivitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, di Auditorium Aljibra Kampus II UMI, Selasa 31 Januari 2012.

Rektor UMI Prof Dr Hj. Masrurah Mokhtar, MA menyatakan, “Sivitas akademika UMI harus pandai-pandai bersyukur dan selalu  bersabar dalam melaksanakan amanah di UMI. Kalau kita selalu bersyukur atas nikmat Allah, Insya Allah Allah akan senantiasa menambah nikmatnya kepada sivitas akademika UMI. Yayasan Wakaf UMI perlu memikirkan masa depan dosen dan karyawan UMI,  sehingga masa depannya jelas, dan mereka dapat bekerja dengan tenang, karena masa depannya terjamin dengan adanya kepastian pensiun bagi dosen dan karyawan dalam lingkup Yayasan Wakaf UMI ” (31/1).

Ketua Yayasan Wakaf UMI H Muh Mokhtar Noer Jaya juga menyatakan bahwa sudah ada kesepakatan pengurus Yayasan  Wakaf UMI untuk melakukan  kenaikan tunjangan dosen dan karyawan tetapi tidak diterima langsung, tetapi dimasukkan dalam bentuk premi asuransi pensiun demi peningkatan kesejahteraan dosen dan karyawan UMI. Ada beberapa rencana bantuan yang akan diterima UMI antara lain, bantuan Gedung Olah Raga dari Menpora dengan nilai Rp 12 milyar dan bantuan Rusunawa dari Menteri Perumahan dengan nilai Rp 14,5 milyar, bantuan pembangunan gedung di Kampus II UMI dari Duta Besar Quwait dengan nilai Rp 6 milyar, bantuan dari Menteri Koperasi dan UKM berupa pinjaman lunak. Sarana fisik lain yang sementara dalam proses pembangunan, yaitu gedung kedokteran gigi dan kedokteran umum berlantai IV nilai Rp 6 milyar dan gedung Fak. Ilmu Komputer, Fak Sastra dan Fak Teknolgi Industri berlantai IV dengan nilai Rp.11 milyar, Rumah Sehat di Kompleks RS Ibnu Sina dengan nilai Rp 4 milyar dan pengaspalan dalam kampus dengan nilai Rp 1.2 milyar.

Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof Dr H Mansyur Ramly juga menyatakan bahwa silaturahim ini merupakan titik awal menuju UMI yang lebih baik.UMI ini ibarat sebuah pesawat yang sedang terbang, sedikit saja ada masalah maka akan berakibat fatal. Untuk itu semua penumpangnya harus sepaham dan memiliki tujuan yang sama dalam mengambil keputusan jangan memaksakan ide dan fikiran sendiri tapi harus dibicarakan bersama.

“ Ada enam komitmen ke-UMI-an yang harus diaplikasikan sivitas akademika UMI, yaitu ; mengabdi dengan ikhlas atas dasar keimanan dan ketaqwaan, selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, memperkokoh dan memperkuat kebersamaan (jamaah) dengan melakukan pembagian amanah/kewenangan (power sharing) yang adil, ihsan dan bertanggungjawab serta dengan pendekatan pola leadership dan gollowrship yang etis dan demokratis, memberikan layanan yang prima kepada segenap pemangku kepentingan (stakeholder) UMI tanpa pamrih dan hanya mengharapkan ridha Allah SWT, semua program dan kegiatan pembelajaran harus berorientasi mutu, dan peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan warga umi yang berdimensi dunia dan akhirat,” ungkapnya.

Program pencerahan qalbu harus dijadikan program unggulan UMI yang diprioritaskan, dengan penyiapan sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana yang baik. Kegiatan pencerahan qalbu harus berkesinambungan bukan hanya di Pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe tapi harus terus diaplikasikan di kampus, baik mahasiswa, dosen dan karyawan. Saturahim ini dihadiri Para pembina, pengawas dan  pengurus Yayasan Wakaf UMI, Rektor UMI, para wakil rektor, Pimpinan RS Ibnu Sina, pimpinan unit usaha. pimpinan fakultas dan lembaga, dosen dan karyawan dalam lingkup Yayasan Wakaf UMI.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!