Ciri Khas Ke-UMI-an

Salah satu diktum dalam Piagam berdirinya UMI, yang dirumuskan oleh para pendirinya bahwa tujuan dasar pendirian UMI adalah untuk membentuk tenaga ahli, terampil, berbudi luhur serta bertaqwa kepada Allah Swt, dan berperannya UMI sebagai penegak cita-cita luhur syiar Islam.

Jadi sejak awal berdirinya UMI telah menjadi suatu tumpuan harapan para pendiri dan masyarakat pada waktu itu bagaimana agar penerapan pendidikan dapat memberikan sumbangan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang dinafasi oleh nilai-nilai ke-Islaman. Ini tak lepas dari hakekat dan missi kesejarahan yang secara monumental diletakkan dalam dokumen historis UMI, sebagai lembaga pendidikan dan lembaga dakwah.

A. Program Kampus Islami

Program ini dicanangkan pada tahun 1985 dengan harapan agar UMI tidak hanya mampu melaksanakan misi Tridarma Perguruan Tinggi yang berwawasan duniawi, melainkan juga mampu mengembangkan segi pendidikan yang berwawasan ukhrawi, yang dilandaskan atas kesadaran diri setiap insan yang melibatkan diri di dalamnya sebagai mahluk ciptaan Allah Swt. Oleh karena itu, dengan program ini diharapkan seluruh sivitas akademika UMI dapat mencapai paripurna penghambaan dirinya kepada Sang Pencipta Allah Swt.

Program kampus Islami merupakan suatu program yang berwatak remedial, yang meskipun tidak akan sama dengan peran yang diemban oleh perguruan tinggi agama, tetapi setidaknya semangat keagamaan tersebut tetap menjadi ciri khas ke-UMI-an. Kedengarannya sangat ideal karena luaran yang dicita-citakan UMI adalah manusia yang memiliki kualitas ulil albab atau intektual muslim, sebuah istilah yang diungkap dalam Al-quran yang diberikan kepada cendekiawan yang terampil dan ahli sesuai dengan displin ilmunya, dan tidak melupakan berzikir dan bersujud kepada Allah Swt. Kualitas ini pulalah yang dimaksud sebagai manusia seutuhnya, yang di dambakan oleh bangsa Indonesia.

Aktualisasi Kampus Islami sebagai upaya pencapaian amanah yang diemban sivitas akademika UMI dalam merealisasikan program Tridharma Perguruan Tinggi dan pengejewantahan risalah dakwah melalui pendidikan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sivitas akademika UMI diharapkan memiliki kesadaran untuk ikut serta secara maksimal meningkatkan kualitas iman, moral serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan, sebagai upaya mengembangkan kualitas dirinya sebagai individu yang lemah dan sekaligus meningkatkan taraf hidup umat Islam pada umumnya, baik di dalam kampus maupun di luar kampus.

Pokok-pokok Program Kampus Islami, meliputi :

  1. Bidang Akademik dan Pengajaran yaitu melakukan islamisasi ilmu pengetahuan, dengan jalan memberikan corak dan warna keislaman terhadap seluruh disiplin ilmu yang akan diberikan kepada mahasiswa, menetapkan kurikulum dan metode penyajiannya, khususnya pendidikan agama Islam, melakukan pemberantasan buta baca aksara Al-Qur’an bagi mahasiswa dan seluruh sivitas akademika UMI.
  2. Bidang Penelitian yaitu melakukan penelitian terhadap masalah pokok yang dihadapi umat Islam.
  3. Bidang Pengabdian pada Masyarakat yaitu melakukan pengabdian pada masyarakat menurut prioritas pembinaan dan diprogramkan secara bertahap.
  4. Bidang Personil yaitu meliputi unsur pimpinan, karyawan yang diarahkan kepada Islamisasi kondisi kerja masing-masing unit.
  5. Bidang Kemahasiswaan yaitu pembinaan iman, ilmu, keterampilan dan moral mahasiswa (termasuk berbusana), yang diarahkan pada pemberian motivasi, agar mahasiswa memiliki semangat, ideadisme, patriotisme serta loyalitas yang tinggi terhadap agama, bangsa dan negara, teristimewa terhadap almamaternya.
  6. Bidang Pendidikan dan Latihan yaitu sebagai upaya menyediakan tenaga pelaksana untuk berbagai program, baik dikalangan dosen maupun mahasiswa.
  7. Pembinaan Syiar dan Ruhul Islam yaitu pendayagunaan kampus, memakmurkan masjid dan kegiatan hari- hari besar Islam serta kegiatan lainnya.
  8. Membina masyarakat/umat Islam dalam bidang mental spiritual dan ukhuwah islamiyah.
  9. Aktif melakukan penyuluhan kepada masyarakat, dalam upaya peningkatan dan erbaikan kesejahteraan dan keterampilan dalam berbagai bidang.

Implementasi dari pelaksanaan Program Kampus Islami harus di maksimalkan oleh semua elemen kampus yang ada di dalamnya, mulai dari unsur pimpinan sampai bawahan termasuk mahasiswa,semuanya harus dapat memposisikan diri dan menyadari bahwa keberadaannya di UMI selain sebagai pelaksana amanah, juga sebagai bagian dari aktifitas dakwah. Tekad ini terus digelorakan untuk mensosialisasikan program tersebut untuk semua lini kehidupan kampus.

B. Pesantren Kilat

Keberadaan Universitas Muslim Indonesia dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, mengemban tugas dan tangungjawab yang lebih luas dan lebih berat dari sekedar melahirkan sarjana, dengan berupaya memberikan nilai plus kepada anak didiknya, melalui pengembangan aqidah dan etika Islam (akhlak), sebagai pondasi dalam mengarungi masa depan.

Salah satu langkah kongkrit yang diterapkan di UMI dalam menyiapkan insan yang siap berkompetisi di era globalisasi, yang berbasis kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dan spiritual adalah Pesantren Kilat. Kegiatan Pesantren Kilat ini dimulai pada tahun ajaran 1989/1990, yang dikhususkan bagi mahasiswa baru. Ini dilakukan dengan asumsi bahwa mahasiswa yang masuk di UMI terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda, sehingga dari awal perlu dibekali pemahaman keimanan seperti aqidah, ahklak dan tauhid yang kemudian dilanjutkan dengan praktikum agama Islam (membaca alquran dan praktek shalat). Dalam perkembangannya, kegiatan Pesantren Kilat ini menjadi pengganti kegiatan OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) dalam penyambutan mahasiswa baru, sehingga kegiatan OSPEK dihapus/ditiadakan.

C. Pencerahan Qalbu

Kegiatan Pencerahan Qalbu merupakan ciri khas UMI sebagai lembaga pendidikan dan lembaga dakwah, yang dilaksanakan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI, yang berlokasi di Desa Padanglampe Kab. Pangkep sebagai Kampus IV UMI, kehadirannya tak lepas dari cita-cita luhur para pendiri UMI, untuk membina dan mempertinggi derajat masyarakat lewat pendidikan dan pembinaan keagamaan. Para pembina UMI sadar melihat fenomena yang berkembang saat ini, dimana sistem pendidikan yang ada sekarang ini, yang lebih menekankan pola treatment atau pembinaan pada pencerdasan otak dalam arti pemberian knowledge dan skill semata, sementara pembinaan akhlaq dan qalbunya terlupakan.

Pada tahun ajaran 2000/2001 pesantren tersebut telah difungsikan untuk membina mahasiswa UMI, yang dimulai dari mahasiswa baru, karena disadari bahwa mahasiswa yang masuk di UMI berasal dari lembaga pendidikan/sekolah yang berbeda-beda, dan dari tahun ke tahun menunjukkan semakin rendahnya pemahaman/ pengetahuan dasar tentang Islam, serta makin tipis kesadarannya tentang akhlaqul karimah.

Dalam perkembangannya, bukan hanya mahasiswa baru yang dipondokkan di Pesantren Darul Mukhlishin tetapi pimpinan, dosen, karyawan dan pengurus lembaga kemehasiswaan dalam lingkungan Yayasan Wakaf UMI juga ikut di bina. Pola pembinaan yang dilakukan di pesantren ini , ternyata mendapat respon yang positif dari orang tua mahasiswa UMI, masyarakat dan beberapa instansi pemerintah dan swasta. Terbukti beberapa instansi pemerintah telah melakukan kerjasama dengan pesantren, seperti Kapolda Sul-Sel dan Kopertis Wil. IX dan Universitas Gorontalo. Juga masyarakat umum yang menitipkan anak-anaknya, khususnya pecandu narkoba (obat-obat terlarang).

error: Content is protected !!