UMI Makassar – Kuliah Tujuh Menit Ustaz Dr.Bakhtiar Nasir (Ulama Asia Tenggara) berlangsung di Masjid Ali Bin Ali Thalib Pascasarjana UMI (22/8).

Hadir Ketua LPDKI UMI Dr.M.Ishaq Shamad, M.A, sejumlah pimpinan PPs UMI dan mahasiswa pascasarjana UMI.

Menurut Ustaz Bakhtiar Nasir telah terjadi kelumpuhan berfikir pada sebagian umat Islam. Hal ini terjadi karena kesalahan dalam menimba ilmu, misalnya: ada anggapan “tidak apa-apa kalau umat Islam tidak shalat, yang penting tidak korupsi”.

Menurutnya, pemahaman seperti itu sudah meracuni pikiran umat, apa karena metodologinya memahami ilmu atau sumber ilmunya yang kurang. “Seakan-akan dosa korupsi lebih besar dari musyrik,” kritiknya.

Ustaz yang sering tampil di TV swasta ini mengajak mahasiswa UMI agar jika ingin demo mengkritik Pemerintah, harus menunjukkan kelas intelektualnya, bukan dengan membakar ban atau anarkhis melawan polisi. Tetapi mengkritik Pemerintah dengan cara intelektual, misalnya Ustadz Bakhtiar menulis di tweeternya “Jokowi hebat, di Jakarta ia mampu melahirkan pemimpin non-muslim, sebelumnya di Solo”, kritiknya. Mahasiswa harus berani mendakwahkan Islam, seperti dicontohkan Pangeran Dipenogoro dalam menerapkan kalimat laa ilaaha illallah semasa hidupnya.

Ustaz Bakhtiar yang mengagumi sosok Prof.Abdurrahman A.Basalama (alm.), karena mengutusnya kuliah di Madinah beberapa waktu lalu, menyatakan bagaimana memahami al-Qur’an dengan mengantar pada pemahaman bukan berdasarkan pada temuan sesaat, tetapi pemahaman yang jauh ke depan, termasuk dakwah melalui media mainstream.

Ustaz yang mempelopori MIUMI (Majelis Intelektual Umat Islam Indonesia) berusaha untuk melawan liberalisme dan misionarisme serta membangun supremasi sosial, yakni al-ulamau warasatul ambiyaa (Ulama pewaris para Nabi). Ia menyatakan sangat berbahaya jika fatwa ulama dianggap sudah tidak mengikat lagi umat Islam. Hal seperti itu juga dibahas sampai di tingkat ASEAN dan beberapa masalah Islam rutin lainnya. Semua itu dilakukan untuk membangun jaringan Islam internasional. Tujuannya untuk menepis kecurigaan dunia terhadap Islam. Apalagi setelah hancurnya Iraq, kemudian munculnya Iran. Dikatakannya hampir 50% para pengamat menggantungkan hasil analisisnya pada negara maju dan mereka buta kepada narasi dan analisis yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Untuk itu, ia mengajak para pemuda muslim di Era Globalisasi ini harus go internasional; “jangan sampai jika saudara kita sesama muslim dibantai-maka pemuda Islam, khususnya di Makassar tidak berbuat apa-apa”, jelasnya. Bahkan ketika pembunuhan massal umat Islam di Burma, organisasi Islam dunia OKI tidak mengakuinya, dan perwakilan Indonesia di OKI-lah yang pertama menyatakan peristiwa itu bukan pembunuhan massal. Ternyata setelah ditelusuri, mengapa Indonesia tidak mengakuinya, karena Indonesia memiliki proyek besar di Rohingya-Burma.

“Kasihan satu bangsa jika pemimpinnya diantara kaum yang meninggal”, kata Khalil Gibran,” ujarnya.

Ustadz Bakhtiar juga menjelaskan konsep Al-Qur’an tentang ilmu, yakni dari ayat iqra bismirabbiq …dan iqra warabbukal akram. Ia mempertanyakan siapa itu orang berilmu? Menurutnya orang berilmu itu jika pengetahuannya mengantarkannya mengetahui hakekat sesuatu. Misalnya jika tissue dicabik-cabik sampai sekecil-kecilnya, sehingga tersisa hanya satuan terkecil, yakni atom yang terdiri dari proton dan neutron- keduanya tidak pernah dilihat oleh para ilmuwan. Lalu, keberadaan sesuatu, dilihat dari mana?

“Untuk itu, sesuatu itu disebut ada karena kesepakatan. Sama halnya dengan tissue tadi, setelah dicabik-cabik ke partikel terkecil, bukan lagi tissue namanya,” jelasnya.

Ia menyarankan agar menggali ilmu lebih dalam, jangan sampai ilmu manusia hanya sampai disitu, maka sangat perlu berhati-hati. Contoh lain; laut berwarna biru di siang hari, senja berwarna orange dan malam kelihatannya berwarna hitam, dst. Semuanya tergantung kesepakatan. Oleh karena itu, kebenaran hanya milik Allah (al haqqu mirrabbika falaa takuunanna minal mumtarin). Ilustrasi lainnya dikemukakan tentang foto tokoh Gajah Mada, siapa ayah dan ibunya, tidak jelas dalam sejarah. Namun pemahaman tentang Gajah Mada sudah digambarkan seperti itu dan diujikan dengan turun-temurun. Termasuk menjadi sorotan tentang Islam Nusantara, bahkan menurutnya pemerintah menyiapkan dana sampai Rp. 50 juta bagi siapa saja yang mau meneliti tentang penelitian Islam Nusantara (fokus dakwah).

Ustaz Bakhtiar mengajak para dosen UMI  untuk ikut berdakwah dan menjadi da’i, sebagaimana ia berkeinginan menjadi guru mengaji sampai mati. Disorotinya banyak Doktor yang tidak mau berdakwah. Padahal peran da’i sangat penting dan Allah mengangkat derajat da’i, sebagaimana ayat: Waman ahsan …. da’a ilallah, hanya dalam ayat tersebut kata da’i yang memiliki lafzhul jalaalah.

Sorotan lainnya terkait dengan Malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S.Al-Mursalah; ilmu tentang Malaikat, demi Malaikat yang membawa kebaikan, dst. Menurutnya pusat energi kebaikan adalah orang yang terhubung dengan Malaikat, jika tidak, maka kebaikan akan pupus. Selain itu, malaikat bekerja dengan cepat, serta Malaikat membela kebenaran serta  menyampaikan wahyu. Jika keilmuan kita selalu disandarkan kepada Al-Qur’an, maka coba buktikan itu secara empiris. Misalnya, kapan manusia berinteraksi dengan Malaikat, yakni ketika Nabi terima wahyu dan Jibril bertemu Maryam, dst.

“Karena itu, perlu dipelajari tentang hal ini. Sebab Allah yang mengajarkan dengan pena, sebagaimana ayat  “allamal insaana maa lam ya’lam”. Siapa penemu pena? Allah-lah pencipta pena. Untuk itu sebagai dosen yang ingin diberkahi, maka gunakanlah pena untuk banyak menulis ayat-ayat Allah,” kuncinya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!