Diskusi Amaliah Ramadhan 1433 H UMI berlangsung di Kampus 2 UMI (30/7). Nara Sumber Prof.Dr.H.M.Ghalib,MA dipandu Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA. Hadir Ketua LPDKI UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA, Dekan Fak.Agama Islam UMI Drs.H.M.Hasibuddin,SS,MA, para Wakil Dekan IV UMI, dan sejumlah dosen UMI.

Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari amaliah Ramadhan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadhan. Kajian kali ini membahas “Sejarah Perkembangan Tafsir”.

Prof.Dr.H.M.Galib,MA menyatakan bahwa yang paling mengerti ayat-ayat Al-Qur’an adalah Allah SWT sendiri. Oleh karena itu, banyak orang yang salah faham terhadap kandungan Al-Qur’an, misalnya ayat yang terkait dengan waktu imsak dengan melihat benang hitam dan benang putih. Ada yang memahami secara harfiah, padahal yang dimaksud benang putih adalah terbitnya fajar (terang) dan benang hitam (gelap). Selain itu, dikatakan pula jumlah sahabat sangat sedikit yang menjadi Mufassir (ahli tafsir).

“Persoalan-persoalan yang muncul dari penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda akibat pemahaman yang dimiliki oleh para ahli tafsir juga berbeda-beda, terutama karena latar belakang para ahli tafsir yang berbeda. Selain itu, ayat-ayat yang turun berbeda sebab turunnya (asbaab nuzulnya),” urainya.

Dikatakan pula bahwa kekeliruan memahami ayat Al-Qur’an sering muncul karena melihat ayat Al-Qur’an yang langsung menafsirkannya, tanpa melihat kaitan ayat tersebut dengan ayat yang lain atau sejarah sebab turunnya ayat tersebut. Misalnya ayat tentang ‘alaq’, segumpal daging, akibat perkembangan teknologi, terutama di dunia kedokteran. Untuk itu penafsiran ayat ‘alaqa’ sudah mengalami penafsiran yang berbeda dengan sahabat disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Untuk itu, sebaiknya ilmuan di UMI menggalakkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang dikembangkan, sehingga terjadi pola integrasi keilmuan umum dan agama,” kuncinya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!