Lokakarya Kurikulum Mata Kuliah Ciri Khusus (MKCK) Universitas Muslim Indonesia berlangsung di Pesantren Darul Mukhlishin Padanglampe (18-19/1). Hadir Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sekaligus sebagai Ketua Pembina Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (YW-UMI) Prof. Dr. Mansyur Ramly, Rektor UMI Prof Dr. Masrurah Mokhtar, para Wakil Rektor dan sejumlah pejabat teras UMI serta 60-an pimpinan dalam lingkup UMI.

Rektor UMI dalam sambutan pembukaan menyatakan MKCK merupakan ciri khas UMI yang berbeda dengan Perguruan Tinggi lain. Namun demikian, perlu dilakukan evaluasi termasuk program Pencerahan Qalbu di Padanglampe.

“Jangan sampai kita mengajak orang untuk cerah qalbunya tetapi perilaku kita tidak mencerminkan perilaku yang baik, tidak mencerminkan seorang muslim yang baik. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap MKCK yang merupakan follow up dari Program Pencerahan Qalbu”, urainya.

Sementara itu, Ketua BAN-PT RI Prof. Dr. Mansyur Ramly mengharapkan agar pokok bahasan MKCK terdisain dan terstruktur. Selain itu, diharapkan seluruh pimpinan UMI memiliki 6 Komitmen KeUMIan, yakni:

1. Mengabdi dengan ikhlas atas keimanan dan ketaqwaan

2. Selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT apapun, kapanpun dan dimanapun.

3. Memperkuat dan memperkokoh kebersamaan dengan pembagian amanah/ kewenangan (power sharing) yang adil, ihsan dan bertanggung jawab dengan pola kepemimpinan dan kepengikutan yang etis dan demokratis.

4. Memberikan layanan prima kepada stakeholder UMI tanpa pamrih dengan hanya mengharapkan ridha Allah SWT.

5. Semua program dan kegiatan termasuk pembelajaran dan pengajaran berorientasi mutu berdasarkan keyakinan bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang paling bermutu dan unggul (al Islami ya’lu walaa yu’la alaiyhi).

6. Peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan warga UMI yang berdimensi dunia dan akhirat.

“Dengan komitmen seperti itu, maka pencerahan qalbu juga harus digalakkan di kampus, di rumah dan di kompleks perumahan UMI,” harapnya.

Dikatakan pula Program Pencerahan Qalbu UMI menanamkan komitmen, pembiasaan awal, pembentukan kultur, dan keterampilan ibadah. Sedangkan MKCK membentuk sikap afektif, kognitif dan psikomotorik sivitas akademika UMI. Selanjutnya seluruh mata kuliah di UMI terintegrasi dalam pembentukan kultur secara total, dan Islamisasi Iptek, Islamisasi ilmu perlu ditegakkan di UMI. Bahkan seluruh pimpinan di UMI diingatkan bahwa jika tidak melaksanakan khittah pendirian UMI, yakni kampus Islami, maka Allah akan membenci kita dan akibatnya UMI bisa hancur. Oleh karena itu komitmen penegakan kampus Islami wajib ditegakkan di kampus UMI.

“Salah satu solusi yang perlu dilakukan pimpian UMI adalah pemberian reward dan punishment bagi sivitas akademika UMI, perlu aturan untuk ditegakkan serta membangun keeratan sehingga tidak ada sekat sekat diantara kita. Bahkan diibaratkan saat ini penerbangan UMI siap tinggal landas menuju kampus Islami,” kuncinya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!