UMI Makassar – Kongres Umat Islam Indonesia VI berlangsung di Hotel Inna Garuda Yogyakarta (8-11/2), dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla dihadiri sekira 700 tokoh agama Islam dari seluruh Indonesia, termasuk utusan UMI Dr.M.Ishaq Shamad, M.A (Ketua LPDKI UMI).

Kongres kali ini mengambil tema “penguatan peran politik, ekonomi, dan sosial budaya umat Islam untuk Indonesia yang berkeadilan dan berperadaban”.

Komariddin Hidayat, salah satu pembicara dalam kongres tersebut menegaskan untuk membangun peradaban Islam. Membangun peradaban Islam diawali dengan menempa kepribadian umat Islam. Seperti halnya Nabi Muhammad Saw, yang sejak muda sudah dipersiapkan dengan karakter kepribadian yang terpercaya (al-amin). Untuk itu, menurutnya Islam di Indonesia berkembang dengan dipengaruhi budaya.

Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem politik negara mempengaruhi ekspresi gerakan umatnya. Demokrasi Indonesia berbeda dengan  Turki dan Pakistan. Turki dulu pernah menjadi pusat kekuasaan Islam, pemerintahan sekuler tapi rakyatnya memakai budaya Islam. Banyak saintisnya tidak pakai nama Islam, tapi keislamannya tinggi.

Dikatakan pula, ketika kekuasaan Turki Ottoman bubar, maka negara Islam lainnya di Timur Tengah bermunculan yang dikapling oleh Francis dan Jerman, sehingga lajir Sulthan-Sulthan. Sementara di Indonesia, Sultan dan Khalifah berjuang untuk kemerdekaan, sehingga umat Islam di Indonesia dan Islam di Timur Tengah tidak bisa dibandingkan.

Di Indonesia jumlah Islam terbanyak dengan suku dan etnis ribuan jumlahnya yang dibingkai dalam keragaman Bhinneka Tunggal Ika. Sementara di  Timur  Tengah terdapat 22 negara yang memiliki bahasa dan budaya yang sama tetapi susah bersatu.

“Disinilah keunikan umat Islam di Indonesia dengan beribu bahasa dan etnis berbeda tetapi bisa bersatu dalam bingkai Indonesia,” urainya.

Demikian pula sistem politik mempengaruhi simbol agama. Bahkan  Islam di Indonesia masuk dan berkembang tanpa kekerasan. Islam di Indonesia sebagai pengikat keindonesaan. Dicontohkan beberapa nama danau dari Bahasa Arab, misalnya Danau Toba asalnya thayyibah-tauba, akhirnya menjadi Danau Toba. Dikatakan pula mengapa Indonesia kok sangat demokratis? Memang diakui Komaruddin Hidayat  bahwa umat Islam mempraktekkan prinsip-prinsip demokrasi, seperti partisipasi dan musyawarah. Selain itu, bagaimana Islam ke depan Islam, seharusnya umat Islam Indonesia sudah memiliki ciri khas dan ikon yang dikenal dunia, jangan hanya dunia mengenal Indonesia dengan Bali, dsb.

“Seharusnya ikon Islam di Indonesia yang dikenal dunia dengan memiliki perguruan tinggi Islam sebagai tempat bagi dunia menimba ilmu Islam,” harapnya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!